;

Saturday, November 30, 2013

Cara Budidaya Ulat Jerman

Saturday, November 30, 2013

Bagi para pecinta burung dan ikan, khususnya burung ocohan ulat jerman sudah tidak asing lagi, tetapi bagi yang baru mengetahuinya, ulat ini sering disebut dengan ulat hongkong besar padahal berbeda denga ulat hongkong. Apabila anda ingin mencoba budidaya ulat jerman ini, tidak ada salahnya Anda mencoba membudidayakannya dari sekarang, karena dapat menghasilkan keuntungan secara ekonomi. 

Budidaya Ulat jerman, cara budidaya ulat jerman, ternak ulat jerman, ulat jerman

Budidaya ulat jerman sama halnya seperti cara budidaya ulat hongkong. Para peternak ulat jerman biasanya memiliki peternakan ulat hongkong, hal ini disebabkan karena cara atau langkah-langkah budidaya ulat jerman sama persis seperti budidaya ulat hongkong.

Apabila kita pelaku bisnis budidaya hewan, jenis ulat jerman bisa dijadikan salah satu solusi, ya karena budidaya ulat jerman sangat mudah dan pemasarannya pun tidak terlalu sulit. 
Untuk mengetahui bagaimana cara budidaya ulat jerman dibawah ini ada suusnan langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam proses budidaya ulat jerman. 

Tempat Ulat
Rak kotak kumbang dan ulat jerman rak kotak harus di amankan dari gangguan semut dengan cara setiap tiang penyangga rak diberikan wadah dibawahnya yang berisi oli, dengan tujuan supaya semut tidak kedalam kotak kembang ulat jerman.

Kotak kembang ulat jerman
Kotak kembang ulat jerman sebaiknya diberikan penutup kassa atau ram dari kawat, dengan tujuan cecak atau binatang lainnya tidak dapat masuk.

Minuman kumbang ulat jerman
Berikan potongan buah-buahan yang sudah dicuci agar kumbang dan ulat jerman mendapatkan cairan dari buah-buahan tersebut.

Sirkulasi udara
Sirkulasi udara dalam ruangan tempat beterbak sebaiknya cukup bebas, sehingga dapat menghasilkan temperature yang normal. Dingin ketinggian suhu udara maksimal 30 derajat. Lokasi kumbang dan pembesaran ulat jerman supaya aktifitas kumbang ulat jerman dapat bertelur dengan baik, sebaiknya lokasi bertelurnya kumbang tidak di satu tempatkan dengan pembesaran ulat jerman. Hal tersebut untuk menghindari kuman atau virus yang dapat menyerang kumbang ulat jerman.

Di bawah ini ada beberapa tahapan yang dibutuhkan untuk proses budidaya ulat jerman:
  • Baki mika yang berukuran 30cm x 30cm x12cm atau bias membuat kaki dari kayu dengan ukuran 80 cm x 60cm x 12 cm, temapat ini diguankan untuk tempat kembang biak kumbang jerman dan pembesaran anakan ulat jerman.
  • Container film/botol minuman/cup ice cream yang digunakan  sebagai tempat untuk metamorf dari ulat jerman menjadi kepompong.
  • Dedak gandum (polard) digunakan sebagai media alas pembiakkan kumbang jerman dan tumbuh kembang ulat jerman, selain media alas Polard ini sebagai makanan utama ulat jerman.
  • Pakan sayur (wortel, kentang, apel, papaya muda dan lain-lain) diberikan sebagai pengontrol kelembaban juga sekaligus sumber kebutuhan air bagi kumbang dan ulat jerman.
  • Kertas peti telur, sebagai tempat berkumpul/persembunyian kumbang jerman
  • Kawat penyaringan, digunakan untuk mengganti polard juga untuk memanen ulat jerman.


Pemilihan induk
  • Untuk pemilihan induk, usahakan tidak lebih, usahakan tidak lebih dari 2 kg, agar ulat yang jadi kepompong ukurannya bisa besar-besar (rata-rata panjang 15 mm dan lebar 4 mm). Sedangkan ulat dewasa dengan ukuran panjang  rata-rata 15 mm, dan diameter rata-rata 3 mm akan mulai menjadi kepompong sekitar 7 sampai 10 hari lagi secara bergantian.
  • Pengambilan kepompong, harus dilakukan selama 3 hari sekali, supaya kepompong yang sudah dipisah dan ditempatkan di dalam kotak tersendiri berubah menjadi kumbang serentak.
  • Pemilhan kepompong, , dilakukan 3 hari sekali, serta kepompong yang dipilih haruslah yang sudah berwarna putih kecokelatan. Dan cara pengambilannya pun, harus hati-hati jangan sampai lecet/cacat. Apabila terjadi, maka kepompong akan mati busuk. Kepompong yang sudah dipilih, kita taruh di dalam kotak pemeliharaan yang sudah diberi alas Koran.kemudian, disebar sedemikian rupa. Jangan sampai bertumpuk, lalu ditutup kembali memakai kertas Koran hingga rapat.
  • Kepompong akan menjadi kumbang, dalam usia mulai 10 hari. Dan apabila sayap kumbang masih berwarna kecokelatan, janagn diambi dulu. Biarkan sampai berwarna hitam mengkilat, dan kumbang siap ditelurkan. Satu kotak/peti, kita tebari kumbang sekitar 250 gr, dan berikan kapas sebagai alas untuk bertelur yang sudah dibeberkan.
  • Pembibitan ini dibiarkan sampai 7 hari, dan diturunkan bila waktu tersebut tiba. Kumbang yang sudah terpisah dari kapas, diberi kapas baru lagi dan begitu seterusnya. Tingkat kematian pada kumbang ini, bisa mencapai 2 s/d 4  persen sekali turun.
  • Kapas yang ada telurnya, kita simpan dalam peti terpisah, telur akan mulai menetas setelah usia ulat mencapai 30 hari baru kita pisahkan dari kapasnya.
Anda juga bisa membaca artikel-artikel lainnya (klik saja):


Kalau artikel ini bermanfaat bagi Anda, tolong share keteman anda melalui google plus [g+] dengan cara mengklik tombolnya di bagian bawah halaman ini. Trima kasih atas partisipasinya.

Sumber Buku :  Beternak Ulat Jerman & Ulat Hongkong. Pustaka Baru Press


Tonie - 12:57 AM

Friday, November 29, 2013

Cara Budidaya Udang Galah

Friday, November 29, 2013

Cara budidaya udang galah yang baik tentunya harus memenuhi persyaratan atau factor-faktor penunjang budidaya itu sendiri. Sama halnya seperti proses budidaya lobster, sebelum memulai budidaya udang galah sebaiknya kita harus mempersiapkan lokasi untuk kolam budidaya.

Budidaya udang galah, udang galah, udang air tawar, cara budidaya udang, cara budidaya udang galah


Factor utama yang perlu diperhatikan dalam melakukan budidaya udang galah yaitu lokasi budidaya, lokasi budidaya udang galah harus dekat dengan perairan atau sungai supaya suplai air tidak kurang.

Selanjutnya setelah kita mencapai lokasi yang strategis yaitu deraja keasaman (pH), baik untuk tanah maupun air. Lokasi dan kondisi yang baik untuk kolam budidaya udang galah adalah tanah dasar dan air kolam yang memiliki pH  netral atu derajat keasaman yang berkisar 6,8-7,5.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam Budidaya Udang Galah

Kualitas air

Kualitas air untuk budidaya udang galah harus memiliki persyaratan sebagai berikut:

• Menerima cahaya matahari yang cukup
• Mengandung mineral-mineral yang cukup
• Mengandung gas karbondioksida yang cukup
• Mempunyai temperature yang ideal untuk proses hidup dan pertumbuhan udang galah

Kadar oksigen terlarut

Oksigen dalam air sangat penting bagi kehidupan udang,maka jika oksigen yang terlarut dalam air sangat rendah berarti tidak baik untuk pemeliharaan udang galah, batas minimal oksigen terlarut dalam air adalah sekitar 5-7 ppm. Untuk mengatasi rendahnya oksigen terlarut dalam air, dapat digunakan kincir.

Kandungan karbondioksida (CO₂)

Kandungan karbondioksida yang baik dalam air kolam bentuh budidaya udang galah ini adalah tidak lebih dari 1,2 ppm dan tidak lebih dari 2 ppm, jika kandungan karbondioksida di atas 50 ppm,akan menyebabkan udang mati dalam jangka waktu relative lama.

Induk udang galah betina

• Memiliki berat lebih dari 40 gram
• Memiliki kandungan telur cukup tinggi
• Bersih dari segala macam kotoran maupun organism yang bersifat parasif

Induk udang galah jantan

• Memiliki berat lebih dari 50 gram
• Kaki jalan kedua tidak terlalu besar
• Bersih dari segala macam kotoran maupun organism yang bersifat parasit

Pakan Udang Galah

Faktor selanjutnya yang perlu diperhatikan dalam budidaya udang galah yaitu factor pakan, ada beberapa persyaratan yang secara tehnis harus memperoleh penanganan secara khusus yakni:
• Aspek kimia yaitu persyaratan kandunagn nutrisi makanan yang meliputi protein, karbohidrat, lemk,               vitamin, dan mineral
• Aspek fisik makanan, yaitu bentuk dan ukuran makanan, ketahanan dalam air, dan tehnik pengepakan
• Aspek biologi yaitu nilai konversi makanan atau perbandingan jumlah makanan yang dikonsumsi dengan         kemampuan makanan yang dikonsumsi dapat meningkatkan berat tubuh udang.
• Aspek ekonomis yaitu kelayakan harga yang ditinjau dari segi kualitas maupun nilai makanan.

Selain pembahasan budidaya udang galah anda juga bisa membaca artikel-artikel sebelumnya (untuk membaca judul di bawah klik satu-satu) seperti:

Budidaya lobster air tawar
Budidaya gabus dengan sistem longyam
Budidaya ikan bawal di kolam terpal


Kalau artikel ini bermanfaat bagi Anda, tolong share keteman anda melalui google plus [g+] dengan cara mengklik tombolnya di bagian bawah halaman ini. Trima kasih atas partisipasinya.



Tonie - 11:52 PM

Wednesday, November 20, 2013

Panduan Budidaya Lobster Air Tawar

Wednesday, November 20, 2013

Ada beberapa tahapan yang perlu diperhatika dalam melakukan budidaya lobster air tawar ini, walaupun ternak lobster atau budidaya lobster dapat dilakukan dengan tempat yang luas ataupun sempit, tetapi tempat dan pasilitas harus strategis dan memenuhi syarat untuk perkembangan lobster tersebut.

Budidaya Lobster air tawar, budidaya lobster, ternak lobster, budidaya udang lobster air tawar, ternak lobster air tawar, budidaya udang lobster


Di bawah ini kita akan mengetahui secara singkat hal apa saja yang diperlukan dalam proses budidaya lobster air tawar, namun walaupun singkat catatan di bawah ini bisa dijadikan gambaran bagi Anda yang akan memulai bisnis budidaya lobster air tawar.

Dan sebelum melihat penjelasan panduan budidaya lobster air tawar ini, perlu saya sampaikan rangkuman catatan di bawah ini saya kutip dari buku yang berjudul "Budi Daya Lobster Air Tawar" yang ditulis oleh Iskandar (Teng Ching Sing).

Faktor-faktor yang perlu diperhatika pada saat Budidaya Lobster Air Tawar

Kolam Semen

Kolam semen dapat dibuat berbentuk segi empat dengan ukuran 2 x 3 x 0,5 m. Ukuran dn jumlah kolam yang dibuat harus disesuaikan dengan luas lahan dan jumlah lobster yang akan dipelihara. Namun, untuk budidaya dalam jumlah besar sebaiknya kolam tidak dibuat terlalu luas, tetapi berukuran sedang dengan jumlah banyak (ditambah jika perlu). 

Hal ini bertujuan memudahkan perawatan, penyeleksian, dan pengontrolan lobster. Dinding-dinding kolam sebaiknya dibuat licin agar lobster tidak dapat merayap ke luar kolam, mengingat lobster terkenal sebaga binatang pengembara yang tangguh. Ia dapat bertahan beberapa jam di dataran tanpa air.

Akuarium

Akuarium dapat digunakan sebagai wadah pemeliharaan jika budidaya yang dilakukan berskala kecil. Selain ringkas dan tidak memakan tempat, keuntungan penggunaan akuarium adalah memudahkan pengawasan dan pengontrolan lobster. Akuarium dapat dibuat dengan ukuran 0,5 x1 x 0,5 m. 

Akuarium dapat dibuat dari bahan kaca dengan ketebalan 0,5 cm. Sepanjang bibir atas akuarium dipasang kaca dengan lebar 5 cm dan panjang disesuaikan dengan dinding akuarium. Ketinggian air untuk pemeliharaan lobster adalah sekitar 10-15 cm. 

Akuarium harus dilengkapi dengan aerator untuk mmepertahankan air akuarium tetap segar dan menjaga kandungan oksigen di dalam air tetap tinggi. Hal ini berbeda dengan kolam yang menggunkkan air mengalir untuk menjaga kesegaran dan suplai oksigen di air.

Kualitas air

Sumber air yang digunakkan bisa berasal dari air tanah, air PAM (perusahaan air minum), dan air sungai. Air tanah dapat langsung digunakan tanpa harus diolah terlebih dahulu. Namun, tempat budidaya yang terletak di daerah yang berdekatan dengan pantai tidak dapat menggunakkan air tanah karena mengandung kadar garam dan tingkat kesadahan yang tinggi. 

Sebaiknya budidaya lobster air tawar di daerah ini menggunakkan air PAM atau air ledeng. Air PAM memang bersih, tetapi kadar klorin dan kaporit yang dikandungnya sangat tinggi. Klorin dan kaporit  ini dapat dihilngkan dengan cara malakukan aerasi kuat selama setengah hari atau mendiamkan air PAM tersebut terlebih dahulu di udara terbuka selama 24 jam. Jika masih berbau kaporit, ke dalam air dapat ditambahkan potassium tiosulfat (K2S2O3) dengan dosis 1 kristal untuk 30 liter air. Setelah itu, air siap digunakkan untuk budidaya lobster air tawar.

Salah satu parameter kualitas air untuk budidaya lobster air tawar adalah kandungan oksigen terlarut. Kandungan oksigen terlarut harus tetap berada di atas 3 ppm. Karenananya, diperlukan bantuan berupa air mengalir atau pemberian oksigen melalui aerator. Suhu ideal untuk pemeliharaan lobster air tawar adalah 24-26°C dengan fluktuasi maksimum 2-3 °C. Menghindari fluktuasi suhu yang tinggi dapat dilakukan dengan cara mengatur kedalaman air dan member naungan agar terhindar dari kenaikan suhu akibat panas matahari.


Pakan

Lobster air tawar termasuk binatang yang tidak rewel dalam soal pakan, sehingga petani tidak direpotkan dalam penyediaannya. Lobster air tawar adalah binatang omnivore, segala makanan yang ada didepannya kemungkinan besar akan disantapnya, tidak terkecuali temannya sendiri yang sedang tidak berdaya. 

Agar lobster yang dipelihara dapat hidup dan tumbuh sempura, jenis pakan, kandungan protein, dosis, dan frekuensi pemberian pakan harus diperhatikan. Jenis pakan yang dapat diberikan kepada calon induk lobster air tawar adalah udang segar, cacing halus, pellet udang, atau pakan nabati seperti ubi jalar dan tanaman air. Standar kandungan protein dalam pakan yang diberikan mamiliki nilai optimum 35-40%. 

Dosis yang diberikan adalah 3% dari bobot tubuh hidup lobster air tawar. Karena lobster air tawar memilii sifat nocturnal, persentase pakan yang diberikan untuk dimakan pada malam hari lebih banyak dibandingkan dengan siang hari. Jenis pellet yang diberikan adalah pellet komersial seperti pellet untuk udang windu atau udang galah. Cacing halus juga dapat diberikan kepada lobster sabagai variasi pakan. 

Variasi pakan tersebut berguna untuk melengkapi gizi yang mungkin tidak terdapat pada pellet. Jenis cacing yang dapat diberikan sebagai pakan adalah cacing tanah, cacing sutera, dan cacing darah, baik yang masih hidup maupun yang sudah dibekukan. Sebelum diberikan kepada lobster, sebaiknya cacing-cacing tersebut dibersihkan terlebih dahulu.

Perlengkapan pendukung

Tempat persembunyian lobster

Dalam budidaya lobster air tawar, tempat persembunyian harus disediakan. Hal ini berhubungan erat dengan daur ulang hidup lobster yang mengalami mol-ting. Lobster akan bersembunyi di tempat yang telah di sediakan agar tidak diserang dan dimakan oleh lobster lain. 

Saat molting, kondisi lobster sangat lemah, selama 2-3 hari lobster hanya berdiam diri di tempat persembunyian hingga kulit yang baru tumbuh mengeras. Tempat persembunyian untuk lobster dapat dibuat dari batako berlubang, paralon, dan kayu-kayu tua yangberlubang. Batako berlubang lebih cocok dihunakan untuk lobster yang masih kecil. 

Setelah berumur 3-4 bulan, lobster tersebut tidak dapat lagi masuk ke dalam lubang batako karena ukuran tubuhnya telah membesar. Pada umur tersebut, tempat persembunyian yang cocok adalah pipa paralon. paralon berdiameter 4 inci dipotong dengan panjang 15-20 cm dan paralon berukuran 2 inci dipotong menjadi 10-15 cm. Sementara itu, paralon-paralon berukuran kecil dipotong dengan panjang sekitar 5 cm. Saat pembersihan kolam, tempat –tempat persembunyian lobster tersebut juga harus dibersihkan dengan cara disikat.

Aerator

Aerator sangat berguna untuk mempertahankan konsentrasi oksigen terlart dan menjaga kesegaran air. Jika pasokan oksigen didalam  wadah pemeliharaan kurang, lobster akan mengalami gangguan yang dapat menyebabkan kematian.

Jenis Kelamin Lobster

Perbedaan kelamin pada lobster air tawar baru dapat dilihat pada saat umurnya telah mencapai 2-3 bulan dengan panjang total rata-rata 4-6 cm. Tanda kelamin primer lobster air tawar adalah perbedaan bentuk tertentu yang terletak  di tangkai kaki jalan dan ukuran capit. Sementara itu, cirri-ciri sekunder yang dapat dilihat secara visual adalah kecerahan warna tubuhnya.

Lobster jantan memilki tonjolan di dasar tangkai kaki jalan ke-5 jika penghitungan dimulai dari kaki jalan dibawah mulut. Cirri lobster air tawar betina adalah terdapatnya lubang bulat yang terdapat di dasar kaki ke-3. Berdasarkan ukuran capitnya, lobster jantan memiliki ukuran capit 2-3 kali lebar buku pertama (tangkai capit) dan lobster betina memiliki ukuran capit yang sama atau 1,5 kali buku pertama.

Dilihat dari ciri-ciri sekunder, warna lobster jantan lebih cerha jika dibandingkan dengan warna dasar tubuh lobster betina, dengan cataatn wadah dan perlakuan yang diberikan dalam pemeliharaannya sama. Jika perbandingan  ini dilakukan dalam lungkungan pemeliharaan yang berbeda, kecerahana dan tingkat ketajaman dari warna dasar itu akan berbeda pula. Warna pigmen dalam cangkang tubuh sangat dipengaruhi oleh warna air, jenis pakan, dan kandungan dasar pigmen yang dimiliki oleh tiap spesies ikan. Perbedaan jantan dan betina redclaw dapat dilihat dari warna ujung capitnya. Pada lobster jantan terdapat warna merah di ujung capitnya.

Selain Panduan budidaya lobster air tawar, anda juga bisa membaca artikel Cara Budidaya Udang Galah klik di sini.

Kalau artikel ini bermanfaat bagi Anda, tolong share keteman anda melalui google plus [g+] dengan cara mengklik tombolnya di bagian bawah halaman ini. Trima kasih atas partisipasinya.


Sumber Gambar:  http://cilacap.olx.co.id/lobster-air-tawar-iid-154442453

Tonie - 10:53 PM

Sunday, November 17, 2013

Klasifikasi Lobster dan Anatomi Lobster

Sunday, November 17, 2013

Mengenal Klasifikasi dan Anatomi Lobster Air Tawar merupaka sesuatu yang cukup penting apabila kita ingin mengenal libih detain tentang jenis udang yang satu ini. Apalagi bagi Anda yang ingin mencoba budidaya lobster alangkah baiknya apabila sebelum melakukan budidaya Anda mengenal klasifikasi dan anatomi lobster tersebut terlebih dahulu.

Habitat asli lobster air tawar adalah danau, rawa-rawa dan daerah sungai yang banyak terdapat tempat berlindung. Lobster air tawar cenderung bersembunyi di celah-celah dan rongga-rongga, seperti dibebatuan, potongan pohon, dan diantara kar tanaman rawa-rawa. 

Di duga ada puluhan jenis lobster air tawar yang tersebar di perairan belahan bumi utara dan selatan. Berdasarkan daerah penyebaran tersebut, lobster air tawar dapat dibagi ke dalam 3 famili, yakni family astacidae dan cambaridae yang tersebar di belahan bumi utara, seperti Amerika dan Eropa, serta family parastacidae yang tersebar di belahan bumi selatan, seperti asia dan Australia. 

Di Indonesia, lobster air tawar berasal dari family parastacidae yang terdiri dari beberapa jenis, seperti Cherax albertisi, Cherax lorentzi, dan Cherax lorentzi auranus. Daerah asal dari jenis-jenis tersebut adalah pulau Papua. Di Australia, penyebarannya hampir di seluruh bagian Australia.

Lobster Air Tawar (Cherax sp.) termasuk jeis udang-udangan (Crustaceae). Seperti jenis udang lainnya, lobster air tawar memiliki cirri-ciri morfologi, seperti tubuh dibagi menjadi 2 bagian, yakni kepala(chepalothorax) dan badan (abdomen). 

klasifikasi lobster, morfologi lobster, budidaya lobster, lobster air tawar

Antara kepala bagian depan dan dan bagian belakang dikenal degan nama sefalothorax. Cangkang yang menutupi kepala berperan dalam melindungi organ tubuh, seperti  otak, insang, hati, dan lambung. Cangkang tersebut terbuat dari bahan zat tanduk atau kitin yang tebal yang merupakan nitrogen polisakarida ( C 6 H 13 0 5 N) yang disekresikan oleh kulit epiderimis yang yang akan mengeras dan mengelupas saat terjadi pergantian cangkang tubuh (molting).

Lobster air tawar merupakan spesies yang tidak memiliki tulang dalam (internal skeleton), tetapi seluruh permukaan tubuh dan organ luarnya terbungkus cangkang (external skeleton). Proses pembentukan cangkang membutuhkan bahan berupa kalsium dan terjadi setelah proses pergantian semua cangkang berlangsung secara sempurna.

Dilihat dari organ tubuh luar, lobster air tawar memiliki beberapa alat pelengkap sebagai berikut:

  • Sepasang antenna yang berperan sebagai perasa dan peraba terhadap pakan dan kondisi lingkungan.
  • Sepasang antanela yang berfungsi untuk mencium pakan, 1 mulut, dan sepasang capit (celiped) yang lebar dengan ukuran lebih panjang dibandingkan dengan ruas dasar capitnya.
  • Enam ruas badan (abdomen) agak memipih dengan lebar badan rata-rata hampir sama dengan lebar kepala.
  • Ekor. Satu ekor tengah (telson) memipih, sedikit lebar, dan dilengkapi duri-duri halus yang terletak disemua bagian tepi ekor, serta 2 pasang ekor samping (uropod)  yang memipih. 
  • Enam pasang kaki renang (pleopod) yang berperan dalam melakukan gerakan renang. Di samping sebagai alat untuk berenang, kaki renang pada induk betina yang sedang bertelur memiliki karakteristik memberikan gerakan dengan tujuan meningkatkan kandungan oksigen terlarut di sekitarnya, sehingga kebutuhan oksigen telur dan larva dapat terpenuhi. Kaki renang juga digunakakan untuk membersihkan telur atau larva dari tumpukan kotoran yang terendap.
  • Empat pasang kaki untuk berjalan (walking legs).
Kalau artikel ini bermanfaat bagi Anda, tolong share keteman anda melalui google plus [g+] dengan cara mengklik tombolnya di bagian bawah halaman ini. Trima kasih atas partisipasinya.

Tonie - 2:03 AM