;

Saturday, October 11, 2014

Panduan Cara Ternak Dan Budidaya ikan lele

Saturday, October 11, 2014

Cara ternak atau cara budidaya ikan lele sebetulnya cukup sederhana karena dapat dilakukan oleh siapapun dan dimanapun, memang benar apabila sebagian orang ada yang berpendapat seperti itu karena ikan lele ikan yang adaptif. Apabila anda ingin mencoba untuk mengembangbiakan ikan lele anda bisa melihat panduan dan tata caranya dibawah ini. Kenapa ikan lele termasuk ikan yang adaptif? karena ikan lele dapat beradaptasi dilingkungan perairan manapun.

Namun walaupun demikian, apabila kita ingin melakukan ternak ikan lele ataupun budidaya ikan lele sebaiknya kita mengatahui aturan ataupun teknik budidaya lele terlebih dahulu, karena hal ini akan berdampak pada hasil akhir dari proses ternak atau budidaya lele tersebut.

Dengan kata lain, apabila kita ingin mendapatkan hasil budidaya yang maksimal secara otomatis berarti kita harus menjalankan tahapan budidaya lele ini dengan semaksimal mungkin (tidak asal-asalan).

Seperti yang pernah saya alami beberapa tahun kebelakang, karena kurangnya informasi mengenai cara ternak maupun budidaya ikan lele ini maka hasilnya pun jauh dari kata maksimal. Dengan alasan seperti itu maka dicatatan singkat ini saya akan mencoba berbagai info bagaimana teknik atau cara ternak dan budidaya ikan lele agar mendapatkan hasil akhir yang maksimal.

Panduan cara budidaya ikan lele ini bersumber dari buku yang berjudul “LELE” yang ditulis oleh Indriyadi Hastoro. Namun saya tulis kembali dengan menambahkan kata - kata saya sendiri dengan maksud supaya lebih mudah dipahami.

Panduan Cara Ternak Ikan Lele atau Budidaya Ikan Lele

cara ternak lele, ternak ikan lele, budidaya ikan lele, cara budidaya ikan lele, ikan lele

Lokasi dan media untuk budidaya ikan lele

  •  Ketinggian lokasi untuk budidaya ikan lele didaerah dataran rendah hingga dataran tinggi (sekitar 700 m dpl). Sedangkan  suhu ideal untuk kehidupan ikan lele antara 25-28°C.
  •  Untuk pertumbuhan larva antara 26-30°C.
  •  Pada masa pemijahan antara 24-28°C, dan untuk tingkat keasaman (pH) air kolam berkisar 6,5-9.
  •  Adapun tingkat kesadahan (derajat butiran kasac) maksimal 100 ppm dan optimal 50 ppm.
  •  Kekeruhan air (turbidity) yang akan disebabkan oleh lumpur antara 30-60 cm, untuk mengukurnya bisa mnggunakan alat yang disebut sicchi disk.
  •  Kemudian kadar oksigen (O2) untuk ikan lele dewasa 0,3 ppm sampai jenuh untuk burayak/anak lele. Kandungan CO2 harus kurang dari 12,8 mg/liter pada suhu perairan 25°C dan ammonium terikat 147,29-157,56 mg/l.

Walaupun ikan lele termasuk ikan yang dapat beradaptasi dilingkungan kondisi air minim, kualitas jelek, keruh, kotor serta sedikit oksigen, namun untuk menjaga kualitas ikan lele dan hasil budidaya yang maksimal sebaiknya air kolam untuk pemeliharaan sebaiknya tidak tercemari oleh limbah yang berbahaya.

Pembibitan ikan lele


Dalam menjalankan budidaya, tahap pembibitan sangat penting dan harus dipersiapkan dengan baik.

Penyiapan induk lele

Ciri-ciri induk jantan dan induk betina

Lele jantan ciri-cirinya:

  •    Ukuran kepala lebih kecil
  •    Warna kulit dada atau dasar badan lebih gelap dibanding induk betina
  •     Urogenital papilla (kelamin) agak menonjol (meruncing) memenjang ke arah belakang. Terletak dibelakang anus dan berwarna kemerahan
  •     Gerakannya lincah
  •     Tulang kepala pendek dan agak gepeng/pipih(depress)
  •     Perut lebih langsing
  •     Jika bagian perut di-stripping secara manual dari perut ke arah ekor, akan keluar cairan putih kental (spermatozoa;mani)
  •     Kulit lebih halus dibandingkan induk lele betina.

Lele betina cirri-cirinya:

  •     Ukuran kepala lebih besar
  •     Warna kulit dada atau dasar badan agak terang
  •     Urogenital papilla (kelamin) berbentuk oval (bulat daun), berwarna kemerahan, lubangnya  agak lebar, dan terletak di belakang anus
  •     Gerakannya lamban
  •     Tulang kepala pendek dan agak cembung
  •     Perut gembung dan lunak
  •     Jika bagian perut di-stripping secara manual dari bagian perut ke arah ekor, akan keluar cairan kekuning-kuningan (ovum/telur)
  •     Kulitnya lebih kasar dibandingkan lele jantan

Induk lele yang dipilih harus cukup umur. Lele lokal mulai dewasa saat berumur 6-8 bulan. Pada umur ini, bobot badan lele lokal mencapai 100 g. Untuk lele dumbo mencapai dua atau tiga kalinya (200-300g). Artinya, pada umur ini induk lele sudah dapat bertelur. Selain itu, pilih induk yang memiliki panjang badan sekitar 20-50 cm.

Untuk budidaya, induk lele hendaknya berasal dari hasil budidaya yang telah terbiasa dengan kehidupan kolam.

Persiapan kolam pemijahan


Bagian dasar dan dinding kolam sebaiknya dibuat permanen. Jika tidak memungkinkan, pemijahan dan pemeliharaan lele dapat dilakukan dikolam tanah atau kolam berdinding dengan dasar tanah. Kemiringan tanah dasar kolam dibuat sekitar 5-10 derajat.

Kolam pemijahan terdiri dari dua bagian utama, yaitu bagian dangkal (70%) dan kubangan (30%). Bagian kubangan dibuat dibagian tengah kolam dengan kedalaman 50-60 cm. Kubangan ini berfungsi sebagai tempat berlindungnya induk ketika kolam disurutkan.

Dalam pemijahan lele, pada sisi-sisi kolam perlu disiapkan sarang peneluran. Bagian dalam bak pemijahan perlu dilengkapi sarang berupa kotak kayu tanpa dasar berukuran (25 x 40 x 30) cm sebagai sarang pemijahan.

Bagian atas kotak sarang diberi lubang dan tutup untuk melihat adanya telur dalam sarang. Sementara itu, bagian depan kotak sarang sedikit gelap. Sarang juga perlu diberi ijuk dan kerikil sebagai media menempatkan telur hasil pemijahan.

Selain dari kotak kayu, sarang pemijahan juga dapat dibuat dari tumpukkan batu bara, ember plastic, atau batang bekas lainnya. Sebelum digunakan, kotak sarang harus berada dalam kondisi higienis. Oleh karena itu, bersihkan sarang dengan mencucinya menggunakan air, lalu bilas dengan formalin 40% atau KMnO4, kemudian bilas dengan air bersih dan keringkan.

Pemijahan


Pemijahan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu pemijahan alami dan pemijahan buatan (suntik/hipofisasi).

Dalam proses pemijahan alami ini ada dua cara yaitu, Pemijahan berpasangan dan Pemijahan massal, namun dicatan ini saya akan menginformasikan hanya pemijahan berpasangan saja.

Lele memijah sepenjang tahun. Pemijahan paling banyak terjadi bersamaan dengan datangnya musim penghujan, sepenjang musim hujan hingga peralihan musim kemarau. Sepanjang hidupnya, induk lele budidaya mampu memijah hingga 15 kali. Induk lele yang dipelihara dengan baik akan bertelur setiap 2-3 bulan sekali dan akan terus bertelur hingga berumur 5 tahun.

Selama 10 hari, terhitung dari sejak induk dimasukkan ke kolam pemijahan, ketinggian air kolam yang dimasukkan hanya sebatas permukaan kubangan (30-60Cm). pada hari ke 10-20, air kolam dinaikkan sampai 10-15 cm (hingga menutup sarang peneluran), dan pemberian pakan dihentikan.

Dengan perlakuan ini, dalam waktu 10 hari berikutnya induk akan memijah dan bertelur dalam sarang yang tersedia. Lebih kurang 24 jam berikutnya, telur akan menetas, burayak bisa tetap berada dalam pengasuhan induk atau dipelihara terpisah dalam kolam ipukan (kolam pendederan).

Pemijahan berpasangan


Pemijahan secara berpasangan tidak jauh berbeda dengan pemijahan alami. Perbedaannya hanya terletak pada ukuran kolam pemijahan yang dibutuhkan. Bak atau kolam pemijahan secara berpasangan dapat dibuat dari semen atau teraso dengan ukuran 1m x 1 m atau 1m x 2 m. Sebagai tempat memijah, kolam perlu dilengkapi sarang pemijahan pada bagian dalamnya.

Setelah kolam pemijahan siap, tebarkan sepasang induk dalam bak yang telah diisi air setinggi sekitar 25 cm. Kondisi air sebaiknya mengalir dan penebaran sebaiknya dilakukan pada pukul 14.00-16.00. Biarkan induk selama 5-10 hari dan berikan pakan secara intensif. Memasuki hari 10 hari, sepasang induk ini biasanya telah berpijah, bertelur, dan menetaskan telurnya dalam waktu 24 jam. Telur-telur yang baik adalah yang berwarna kuning cerah.

Anak-anak lele yang telah menetas dan masih kecil (stadium larva) dapat diberi pakan alami beruapa kutu air atau jentik-jentik nyamuk. Setelah ukurannya bertambah besar. Anak lele dapat diberi cacing dan kuning telur rebus.

Penetasan


Penetasan telur dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:

1.    Ditetaskan dikolam ipukan/pendederan

2.    Dibiarkan menetas secara alami disarang yang terdapat pada kolam pemijahan.

Cara 1

Terdapat langkah-langkah yang ditempuh jika telur dipelihara dalam kolam ipukan (kolam pendederan), yaitu:

•    Segera keluarkan telur begitu pemijahan selesai.

•    Pelihara secara intensif telur-telur tersebut dalam kolam ipukan (kolam pendederan).

•    Pertumbuhan larva membutuhkan suhu air kolam antara 26-30°C.


Cara 2

Jika dibiarkan berada dalam asuhan induknya, biarkan telur menetas dan pemisahan burayak dengan induk dilakukan secara bertahap.

Adapun pemisahan induk dan burayak dilakukan dengan tahapan berikut.

•    Saat benih berumur seminggu, segera pisahkan induk betina dari kolam dan biarkan pejantan tinggal di kolam menjaga anak-anaknya.

•    Setelah berumur 2 minggu, pisahkan anakan dari induk jantan. Selanjutnya, keluarkan anakan lele dari sarang dan pindahkan ke kolam ipukan (pendederan).

Untuk mengumpulkan burayak, terlebih dahulu air kolam disurutkan hingga sebatas kubangan. Selanjutnya, benih dialirkan melalui pipa pengeluaran dan burayak lele yang sudah dipindahkan ke kolam pendederan dapat dipelihara secara intensif.

Pembesaran Benih


Setelah menetas, benih hasil pemijahan perlu mendapat perhatian ekstra dan pemeliharaan intensif. Pemeliharaan  intensif ini diharapkan mampu menekan angka kematian benih dan membuat pertumbuhan benih menjadi lebih pesat.

Pemberian pakan


•    Pada hari ke-1 sampai ke 3, benih lele tidak perlu diberi pakan tambahan karena masih memiliki kantong kuning telur (yolk sac) yang dibawa sejak menetas.

•    Hari ke-4 hingga akhir minggu ke-2, benih diberi zooplankton, yaitu daphnia dan artemia yang mengandung protein 60%. Dosisnya 70% kali biomassa setiap hari. Dua jenis pakan alami ini diberikan 4 kali sehari. Pakan ditebar di sekitar tempat pemasukan air (inlet).

•    Kira-kira 2-3 hari menjelang pemberian pakan zooolankton berakhir, benih lele sedikit demi sedikit dikenalkan dengan pakan berbentuk tepung yang mengandung protein 50%. Pakan tepung tersebut dapat berupa campuran kuning telur, tepung udang, serta sedikit bubur nestum. Untuk membiasakan pada pakan baru tersebut, pakan bentuk tepung diberikan sekitar 10-15 menit sebelum pemberian zooplankton.

•    Minggu ketiga, pakan tepung diberikan sebanyak 43% kali biomassa setiap hari.

•    Minggu keempat, pakan tepung diberikan sebanyak 32% kali biomassa setiap hari.

•    Minggu kelima, pakan tepung dberikan sebanyak 21% x biomassa setiap hari.

•    Minggu keenam, benih diberi pakan berupa pellet apung.

Pendederan dan pembesaran


Pemeliharaan benih lele dilakukan di kolam ipukan (pendederan) dengan melalui tiga tahapan pendederan, yaitu pendederan 1, 2, 3.

kolam pendederan 1 digunakan untuk merawat benih hingga ukurannya mencapai sekitar 1-3 cm. kepadatan kolam pendederan untuk benih seukuran ini antara 60-100 ekor/m².

Selanjutnya, benih ukuran 3 cm ini dipelihara lebih lanjut pada kolam ipukan 2 hingga usianya mencapai 21-30 hari dan panjangnya sekitar 5-6 cm. Benih seukuran ini dapat dipelihara kembali dalam kolam ipukan 3 atau bisa juga dijual sebagai benih.

Selepas dipelihara dalam kolam ipukan (kolam pendederan) 3 hingga umurnya menginjak 35-45 hari, panjang badan lele telah mencapai 10-15 cm. Benih seukuran ini akan cepat besar apabila dipelihara dalam kolam pembesaran.

Walaupun panduan cara ternak dan budidaya ikan lele ini sangat singkat, tapi bagi anda yang mau memulai ternak atau budidaya lele, info panduan di atas tadi semoga jadi nilai tambah bagi anda dan semoga menjadi informasi yang bermanfaat, namun bagi anda yang ingin mendapatkan info yang lebih lengkap silahkan baca saja bukunya.

Anda juga bisa membaca postingan sebelumnya di blog ini dengan judul :

Pakan alami dan buatan untuk ikan lele
Cara ternak kutu air untuk pakan ikan

Sumber : Buku berjudul “LELE” yang ditulis oleh Indriyadi Hastoro dan diterbitkan olah Dinamika Media.
Sumber Gambar : http://anambrayouthfarmers.blogspot.com/

Tonie - 1:01 AM

Saturday, May 17, 2014

Kandang Kambing Untuk Ternak Kambing

Saturday, May 17, 2014

Kandang Kambing

Kandang salah satu fasilitas tempat tinggal kambing yang sangat penting, sebab kandang kambing sangat berpengaruh bagi perkembangan kambing tersebut. Adapun beberapa fungsi kandang diantaranya :
  • Sebagai tempat bernaung di waktu  malam hari
  • Sebagai tempat berlindung dari gangguan panas matahari, hujan atau bila ada angin yang sangat kencang.
  • Untuk kambing itu sendiri, kandang merupakan tempat yang paling aman dan praktis buat melahirkan anak-anaknya.
  • Bisa juga kandang tersebut kita pergunakan untuk mengadakan perkawinan atau “pemacekan” kambing. Dengan demikian kambing-kambing itu akan dapat mengadakan perkawinan dengan rasa aman, dan
  • Dengan adanya kandang, bisa juga kita pergunakan untuk mengawasi kambing-kambing tersebut, apakah kambing itu sehat semua atau ada yang terjangkit sesuatu penyakit.
kandang kambing, ternak kambing, cara membuat kandang kambing, cara memelihara kambing, cara merawat kambing, cara ternak kambing, usaha ternak kambing, budidaya kambing


Karena kita telah mengetahui akan keperluan dan kepentingan kandang itu, selanjutnya perlu kita mengetahui bagaimanakah bentuk kandang kambing yang baik dan memenuhi syarat. Syaratnya antara lain kandang harus kita tempatkan ditempat yang menguntungkan bagi si kambing maupun buat kita yang memelihara. Artinya aman buat si kambing dan juga aman buat pemeliharanya.

Sedangkan bahan untuk membuat kandang kambing, bisa saja kita ambilkan dari bahan-bahan yang murah dan kalau perlu apa saja yang sudah tersedia di tempat. Misalkan ada kayu atau pun potongan-potongan bambu yang sudah tidak terpakai, asal saja masih kuat. Kayu atau pun bambu kita perlukan untuk membuat tiang, dinding, ataupun alasnya. Kalau atapnya sebaiknya kita pergunakan saja daun alang-alang yang telah dikeringkan dan diikat menjadi satu dengan bentuk pipih, kalau kita mau menghemat biaya, bila ada biayanya bisa juga kita pergunakan genting.

Telah kita ketahui dibagian depan, bahwa hewan kambing adalah binatang yang punya sifat lincah dan gairah hidupnya tinggi. Serta merupakan binatang yang suka mendaki, maka untuk membuatkan kandang harus kita sesuaika dengan sifat-sifatnya. Kandang tersebut haruslah kita buat agak tinggi. Misalnya saja setengah meter dari  permukaan tanah, dengan demikian maka kandang tersebut mempunyai kolong.

Untuk membuat kandang sehat, kandang itu harus kena sinar matahari. Sebaiknya sinar matahari dapat menerobos masuk kandang di waktu pagi. Hal yang harus diperhatikan, yaitu adanya pergantian udara dalam kandang dan kandang harus kuat menahan angin.

Kandang kambing ini memang dapat kita buat dengan system kandang tunggal atau pun system kandang ganda. Namun pembuatan kandang tersebut memang sebaiknya disesuaikan saja dengan berapa kambing yang kita pelihara.

Patokan - Patokan Membuat Kandang Kambing


1. Kandang kambing jantan
Untuk seekor kambing jantan memerlukan kandang seluas: 1 x 1,5 m.

2. Kandang kambing betina
Biasanya kandang kambing betina, akan dibuatkan untuk kandang betina yang besar dan bunting serta mempunyai anak satu,atau dua ekor. Untuk keperluan ini ukurannya adalah: 1 x 1,5 m. kalau hanya untuk keperluan kambing betinanya saja adalah : 0,8 x 1,5 m. kalau kita mau membuatkan kandang untuk 10 ekor kambing yang kita campur sekaligus, dapat dipergunakan ukuran 1,5 x 7,5 m atau minimal dapat pula dipergunakan ukuran 1,5 x 6 m.

3. Dinding 
Agar kambing kita tidak terkena angin yang kencang, sebaiknya unutk dindingnya dibuat secara tertutup. Untuk dinding kandang ini dapatlah kita buat dari bilik bamboo yang tebal atau pun dari papan. Yang penting kuat, sebab kambing suka membenturkan kepalanya ke dinding. Sedangkan untuk penyekat kandang, dapat kita pergunakan bambu yang dibelah-belah dan jarang jaraknya. 

Kalau yang untuk menghadap k etempat makanan, kita harus mengatur dengan jarak antara 20-25 cm. ini kita buat dengan maksud agar kepala kambing itu bisa keluar untuk mengambil makanannya. Kemudian kita juga harus membuatkan pintu yang besarnya relative, menurut kebutuhan. Usahakan pintu berada dibelakang. Selain membuatkan pintu kita harus membuatkan pintu kita harus membuatkan tangga untuk menopang kambing keluar masuk ke dalam kandang.

4. Tempat makanan
Rak tempat makanan harus kita tempatkan di tempatkan yang tidak mudah terkena sinar matahari ataupun kena hujan. Adapun besar kecilnya rak tempat makanan itu sebenarnya tidak ada patokannya, asal saja dapatmenampung makanan yang berupa rumput-rumputan untuk sehari penuh. Namun untuk para calon pemelihara yang belum berpengalaman, baiklah kita berikan saja pedoman sebagai berikut:

Bagian  dasar selebar 25 cm.
Bagian atasnya selebar 5-40 cm.
Dalam rak berantara 50 cm.
Jarak dengan lantai dapat setinggi 25 cm.
Bahan untuk tempat makanan ini dapat dibuat dari bamboo yang dianyam, denagn demikian tidak banyak makanan yang jatuh tercecer.

5. Lantai
Untuk pembuatan bahan lantai, seharusnya kita memilih bahan-bahan yang tehan terhadap air kencing. Paling baik kalau kita pergunakan bamboo-bambu yang telah tua atau bamboo-bambu yang telah kita rendam didalam air dalam waktu yang cukup lama. Supaya kotoran yang jatuh dilantai itu bisa keluar, maka kita harus mengatur antara bambu-bambu yang kita buta lantai itu dengan jarak antara 1-1,5 cm. 

Kemudian kandang  dibuat mempunyai kolong, maksudnya kalau kotoran yang jatuh kekolong itu berbau tak enak dan membuat kandang sendiri sehat kembali. Apalagi kalau terus setiap pagi kena sinar matahari. Tanah dibawah kolong itu, bisa berupa tanah biasa. Akan tetapi baik juga kalau dibuat semen plesteran dan diberi lubang sedalam 0,5 m untuk menampung kotoran-kotoran kambing. Setelah 3 bulan kotoran tersebut bisa diambil dan dipergunakan sebagai pupuk. Bila kita mengusahakan pertanian, pupuk tersebut dapat kita pakai sendiri. Kalau kita tidak mempunyai tanam-tanaman, pupuk tersebut bisa dijual.

6. Atap
Untuk atap ini kita harus mengusahakan agar supaya tidak bocor. Lalu kalau kita mempergunakan system kandang tunggal yang mempunyai rak tempat makanan diluar, maka kita harus juga nmengusahakan agar supaya rak makanan tersebut tidak terkena air.

Sebanarnya kalau kita akan membicarakan tentang kandang, semua itu hanyalah menurut selera sendiri. Berapa banyak kambing-kambing yang akan dipelihara, dan bentuk kandangnya dapat dirancang yang sesuai dengan kebutuhan.

Lalu yang penting pula untuk diketahui, memelihara pejantan kambing yang akan digunakan sebagai pemacek, haruslah dikandangkan tersendiri. Sebaiknya kambing jantan kandangnya diletakkan ditengah-tengah kambing betina yang telah dewasa. Dengan demikian baik kambing jantan maupun kambing-kambing betina masih terus mempunyai gairah nafsu seksual yang tinggi.

Setelah anda mengetahui informasi tentang cara membuat kandang kambing, selanjutnya anda dapat membaca postingan sebelumnya tentang panduan Ternak Kambing (klik untuk membacanya)

Sumber Buku : Cara Beternak KAMBING, Penerbit : Aneka ilmu
Sumber Gambar : http://kambingperahbandung.blogspot.com/

Kalau artikel ini bermanfaat bagi Anda, tolong share keteman anda melalui google plus [g+] dengan cara mengklik tombolnya di bagian bawah halaman ini. Terima kasih atas partisipasinya.



Tonie - 12:37 AM

Wednesday, May 14, 2014

Kambing Etawa Dan Janis Jenis Kambing Lainnya

Wednesday, May 14, 2014

Bagi anda yang akan memulai ternak kambing ettawa, kacang, jawarandu, dll sebelumnya kita harus mengetahui akan asal-usul binatang itu sendiri terlebih dahulu dan beberapa jenis kambing yang dapat diternakan. Kambing yang dipelihara ole para peternak pada saat ini berasal dari kambing keturunan kambing gunung.

ternak kambing, kambing etawa, jenis jenis kambing, kambing ettawa, kambing jawarandu, usaha ternak kambing, cara beternak kambing, budidaya kambing, cara ternak kambing, kambing, kambing kacang
Kambing liar tersebut merupakan binatang yang penuh gairah hidup dan lincah serta mempunyai kesukaan mendaki. Para ahli juga menyatakan, bahwa ada  jenis kambing liar yang diduga sebagai cikal bakal atau nenek moyang dari seluruh jenis kambing liar yang diduga sebagai cikal bakal atau nenek moyang dari seluruh jenis kambing yang sekarang dipeliahar orang. 

Ketiga jenis kambing  liar tersebut adalah sebagai berikut.




Caprafalconen
Menurut penelitian Jenis kambing liar ini berasal dari daerah sepanjang pegunungan di Khmeer.

Capra-pasca
Kambing liar ini asalnya dari daerah sepanjang semenanjung Balkan.

Capra-Hircus atau Capra-Aegagrus
Sementara ahli mengatakan, kambing liar jenis ini berasal dari daerah Pakistan dan Turki.
Oleh karena adanya modifikasi (penyesuaian bentuk luar tubuh terhadap lingkungan), maka sekarang kita mengenal bentuk kambing seperti yang sering kita lihat dan pelihara. Sekarang ini, juga banyak dikenal sebagai kambing jenis susu dan jenis daging.

Sedangkan  kambing yang berada di Indonesia sekarang ini berasal dari:
Kambing asli yang diternakkan turun menurun;
Kambing impor yang diternakkan secara khusus, dan Perkawinan campuran antara kambing impor dengan kambing asli yang ada di Indonesia.

Jenis-jenis Kambing

Kambing jenis susu

a.  kambing Soanen
Adapun asal  dari kambing Soanen dari lembah Soanen di Swiss. Ciri-ciri dari kambing Soanen adalah sebagai berikut.
  • Secara umum berwarna putih dan krem.
  • Baik jantan maupun betinanya, tidak mempunyai tanduk.
  • Dahinya kelihatan lebar, telinganya sedang dan tegak.
  • Kakinya lurus dan kuat.
Untuk jenis kambing Soanen, seharinya bisa menghasilkan susu sebanyak 3-4 liter.

b . Kambing Toggenburg
kambing ini pun berasal dari Swiss, banayk terdapat di lembah Toggenburg.
Ciri-ciri dari jenis kambing ini adalah sebgai berikut.
  • Warnanya cokelat, biasanya pada kaki bagian bawah berwarna putih, dan begitu juga denagn bagian samping dari mukanya serta dibawah pangkal ekor.
  • Baik yang jantan maupun betina tidak mempunyai tanduk.
  • Telinganya agak besar dan berdiri tegak.
Untuk kambing jenis ini seharinya bisa mneghasilkan susu sebanyak 3-4 liter.

Kambing pedaging

a. Kambing jawarandu
kambing ini hasil persilangan antara kambing Kacangan dengan kambing Ettawa.jenis ini sampai sekarang banyak terdapat disepanjang pantai pesisir pulau Jawa.
Kambing jawarandu mempunyai sifat-sifat seperti kedua kambing yang menjadi ayah dan induknya, yaitu sifat kambing Ettawa dan Kacangan.

b. Kambing kacangan
kambing kacangan ini adalah kambing asli dari Indonesia, lincah, kecil, dan suka mendaki. Sedangkan kalau kita perhatikan warnanya, mempunyai warna yang tidak seragam. Banyak yang kita dapatkan berwarna hitam, putih, coklat, atau bahkan yang campuran. Karena bentuk kambing kacangan ini kecil, maka orang sering menyebutnay dengan nama kambing kerikil. Kambing jenis ini banyak terdapat di daerah-daerah pegunungan terutama di Pulau Jawa.

Adapun cirri-ciri dari kambing kacangan ini adalah:
  • Kepalanya kelihatan ringan dan telinganya pendek;
  • Pertumbuhan tanduknya tidak subur, tanduk kambing kacangan yang jantan panjangnya± 10 cm, dan betinanya bertanduk ±3 cm;
  • Antara pangkal tanduk berjarak ±3 cm; dan
  • Rambut pada kambing betinanya agak pendek, sedangkan untuk yang jantan agak panjang.
c. Kambing Ettawa
Untuk jenis kambing ini berasal dari daerah Jumnapari India. Dinas peternakan di Indonesia telah memperkenalkan jenis kambing ini kepada masyarakat, dengan maksud untuk memperbaiki kambing-kambing di Indonesia telah memperkenalkan jenis kambing ini kepada masyarakat, denagn maksud untuk memperbaiki kambing-kambing di Indonesia. Yaitu dengan cara mengawinkan dengen jenis kambing Kacangan. Karena kambing Ettawa ini dipakai sebagai bibit, maka haruslah mempunyai syarat-syarat tertentu sebelum dipilih sebagai pejantan atau induk bibit unggul.

Adapun syarat-syaratnya adalah sebagai berikut.
  • Bentuknya harus besar dan baik
  • Kepalanya harus tegak, badannya kuat, dan kenyal.
  • Hidungnya melengkung, telinganya panjang dan menggantung. Dapat pula disertai denagn ujung telinga sedikit menonjol keatas.
  • Panjang telinga kambing jantannya dapat mencapai 27 cm. Sedangkan panjang telinag betinanya bisa mencapai 25 cm. Lebar telinga kambing jantan bisa mencapai 8 cm-13,5 cm. kemudian lebar telinga betinanya bisa mencapai 8cm-13,5 cm. kemudian lebar telinga betinanya bisa mencapai 7,5-10 cm.
  • Kakinya panjang dan tegak, kemudian pada kaki bagian belakang sering ditumbuhi dengan bulu-bulu.Bulu itu kelihatan panjang. Selain dikaki, bulu yang panjang itu pun sering terlihat di ekornya.
  • Kulitnya mudah lepas kalau ditarik, tetapi kemudian cepat pula kembali lagi seperti semula.
  • Tinggi punggung pada kambing jantan yang berumur 2 tahun dapat mencapai antara 90-105 cm. Tinggi punggung buat betina yang berumur 3 tahun antara 75-85 cm.
  • Panjang badannya lebih pendek sedikit apabila dibandingkan dengan tinggi punggung, dan ini hanya berkisar selisih 5 cm
  • Warna kambing pada umumnya belang-belang hitam putih, merah ataupun bisa juga cokelat putih.
  • Untuk jenis kambing ini selain dipelihara untuk diambil dagingnya, juga bisa diambil susunya, dengan produksi seharinya 3 liter.
d. Kambing kosta
Jenis kambing ini berasal dari Persia. Karena bentuknya besar maka jenis ini banyak terdapat dikota-kota besar seperti  Jakarta, Semarang, Bandung, dan Surabaya. Diternakkan khusus untuk diambil dagingnya.
Cirri-ciri dari jenis kambing Kosta ini adalah:

  • Tanduknya pendek dan telinganya panjang, dan
  • Profil lurus ataupun kalau berlekuk-lekuk, maka lekuk itu sangat sedikit. Sedangkan yang dimaksud dengan profil adalah garis lurus yang ditarik dari tengah-tengah antara dua tanduk ke tengah-tengah hidung.

Kambing jenis bulu

Untuk keperluan ini biasanya diambilkan dari Kambing Angora. Kambing Angora sendiri ini berasal dari daerah Turki.
Adapun bentuk-bentuk umum yang menjadi cirri-ciri kambing Angora adalah sebagai berikut:
  • Warnanya putih atau bisa juga berwarna krem
  • Baik yang jantan maupun yang betina selalu mempunyai tanduk.
  • Telinganya rebah namun tidak selalu mempunyai tanduk
  • Bulunya sangat tebal dan panjang, sering dikenal dengan nama istilah Mohar. 
  • Berat badannya dapat mencapai 80 kg.
Kambing jenis ini biasanya diternakkan untuk diambil bulu-bulunya, karena selain bisa dibuat permadani, sebagai bahan wool yang sangat terkenal didunia. Bahkan kalau di Australia, untuk jenis kambing ini dipelihara sampai puluhan ribu dipadang rumput yang terbuka. Hingga tidak mengherankan bila Negara tersebut dapat menghasilkan produksi wool yang baik dan terkenal diseluruh dunia.

Jenis-jenis Kambing di atas sebetulnya hanya sebagian contoh yang ada di indonesia, karena sebetulnya jeni-jenis kambing di seluruh dunia ini sangat banyak lagi jenisnya.

Untuk selanjutnya silahkan baca / klik di sini cara Ternak Kambing

Kalau artikel ini bermanfaat bagi Anda, tolong share keteman anda melalui google plus [g+] dengan cara mengklik tombolnya di bagian bawah halaman ini. Terima kasih atas partisipasinya.


Sumber Buku : Cara Beternak KAMBING, Penerbit : Aneka ilmu
Sumber Gambar : http://farmbusinessideas.blogspot.com/



Tonie - 4:07 AM

Friday, May 2, 2014

Tempat dan Media Budidaya Ternak Cacing Tanah

Friday, May 2, 2014

Bagi anda yang akan memulai ternak atau budidaya cacing tanah mungkin belum mengetahu apa saja median atau tempat yang bisa dipergunakan untuk ternak cacing tanah ini, untuk itu kita langsung saja lihat di bawah ini untuk lebih jelasnya.

Media ternak cacing, media budidaya cacing, media budidaya cacing tanah, cacing tanah, budidaya cacing tanag, budidaya cacing, ternak cacing
Wadah pemeliharaan adalah bak yang dapat diisi sarang (media) dimana cacing tanah dapat hidup dan berkembang biak di tempat tersebut.



Ada dua pilihan dalam membuat bahan bak, yakni:

1. Bak permanen
Bak ini dapat dibuat dari bahan bata merah/batako, semen, pasir.  Bentuknya bisa seperti kolam ikan atau bak mandi. Ukurannya tergantung keinginan kita, karena tidak ada patokan ukuran yang pasti. Jadi akan lebih baik disesuaikan tersedianya tempat yang dimiliki. Namun dari hasil pengamatan para  peternak menggunakan ukuran panjang 2,5 meter. Lebar 75-100 cm dan tinggi 30 cm. Bak ukuran tersebut untuk menampung 1000 sampai 2000 ekor bibit cacing tanah dewasa atau sekitar satu setengah kilogram cacing.

2. Bak semi permanen
Dalam pembuatan bak ini dapat menggunakan bahan dari ember plastic, besek, papan kayu, tong, dan lain-lain. Bila menggunakan ember plastik, pilih yang bentuknya oval ukuran 50 x 40 x 25 cm (pxlxt), dan diisi sarang atau media setinggi 15-20 cm. demikian pula apabila menggunakan bahan dari besek dapat memilih ukuran seperti tersebut atau tergantung dari ukuran yang sudah tersedia ditoko/warung penjual besek. 

Khusus bahan dari papan kayu ukurannya tergantung selera masing-masing. Setiap ember plastik ataupun besek ukuran tersebut diatas menampung ±1/2 (setengah) ons bibit cacing tanah.

Bahan bak seperti ember, besek maupun papan kayu kemudian ditempatkan diatas rak tersusun dari kayu reng. Sehingga dapat menghemat tempat, mudah dipindah-pindah tempatnya. Untuk meletakkan rak tersebut dapat menggunakan atau memanfaatkan tempat kosong dalam ruangan  rumah, gudang, garasi yang tidak terpakai.

Bahan media (sarang)

Media atau sarang untuk cacing tanah dibuat dari berbagai macam bahan. Sarang atau media ini selain berfungsi sebagai tempat hidup dan berkembang biak juga sebagai sumber makanan. Oleh karena itu semakin banyak bahan yang digunakan semakin sedikit makanan yang diberikan.

Bahan-bahan sarang atau media yang baik adalah kotoran ternak, serbuk gergaji, jerami (padi, jagung), sekam, dedak, serutan kayu, rumput atau daun-daun kering, lumpur selokan, ampas tebu, kompos, dsb. Satu bahan yang harus ada adalah kapur tembok, untuk bak ukuran 1 x 2,5 x 0,3 meter diperlukan 0,5 kg kapur. Serbuk gergaji, sekam dan jerami dapat saling mengganti atau diperlukan salah satu. Bahan ini berfungsi untuk menjaga porositas sarang.

1. Syarat media yang baik adalah sbb:

- Mempunyai daya serap air yang tinggi
- Selalu gembur dan tidak menjadi padat
- Jika diharapkan sebagai sumber makanan, janagn terlalu tinggi kadar proteinnya.
- Jangan mengandung tanah permukaan.

2. Contoh formula bahan sarang atau media:

- Serbuk gergaji/sekam/jerami : 60%
- Dedak padi         : 10%
- Kotoran ternak (ayam) : 10 %
- Daun-daun/rumput kering : 20%

3. Atau dapat menggunakan formula sbb:

- Serbuk gergaji : 60%
- Daun-daun kering : 10%
- Dedak padi  : 10%
- Kotoran ayam : 10%
- Lumpur selokan : 10%

Cara mengolah bahan media

  1. Bahan-bahan yang panjang seperti jerami, rumput atau daun-daun kering terlebih dahulu dicincang halus
  2. Semua bahan kecuali kotoran ternak atau kompos, diaduk rata masukkan pada suatu tempat dan diberi air secukupnya. Setiap seminggu sekali campuran ini diaduk dan diberi air secukupnya. Setelah matang (kira-kira 1 bulan) dicampur dengan bahan diatas (no.2). perbandingan 70% untuk bahan campuran, 30% kotoran ternak. Kemudian ditambahkan kapur tembok secukupnya.
  3. Di tempat lain, bahan berupa kotoran ternak atau kompos setiap seminggu sekali diaduk dan diberi air secukupnya. Setelah matang (kira-kira 1 bulan) dicampur denagn bahan diatas (no.2). Perbandingan 70% untuk bahan campuran, 30% kotoran ternak.kemudian ditambahkan kapur tembok secukupnya.
  4. Semua campuran tersebut dibiarkan selama 24 jam, kemudian dimasukkan ke dalam bak yang telah disediakan.
Sumber Buku : Budidaya CACING TANAH LUMBRICUS RUBELLUS, Penerbit CV. ANEKA Solo
Sumber Gambar : http://jacksonville.com/

Kalau artikel ini bermanfaat bagi Anda, tolong share keteman anda melalui google plus [g+] dengan cara mengklik tombolnya di bagian bawah halaman ini. Terima kasih atas partisipasinya.


Tonie - 2:40 AM