;

Saturday, October 11, 2014

Panduan Cara Ternak Dan Budidaya ikan lele

Saturday, October 11, 2014

Cara ternak atau cara budidaya ikan lele sebetulnya cukup sederhana karena dapat dilakukan oleh siapapun dan dimanapun, memang benar apabila sebagian orang ada yang berpendapat seperti itu karena ikan lele ikan yang adaptif. Apabila anda ingin mencoba untuk mengembangbiakan ikan lele anda bisa melihat panduan dan tata caranya dibawah ini. Kenapa ikan lele termasuk ikan yang adaptif? karena ikan lele dapat beradaptasi dilingkungan perairan manapun.

Namun walaupun demikian, apabila kita ingin melakukan ternak ikan lele ataupun budidaya ikan lele sebaiknya kita mengatahui aturan ataupun teknik budidaya lele terlebih dahulu, karena hal ini akan berdampak pada hasil akhir dari proses ternak atau budidaya lele tersebut.

Dengan kata lain, apabila kita ingin mendapatkan hasil budidaya yang maksimal secara otomatis berarti kita harus menjalankan tahapan budidaya lele ini dengan semaksimal mungkin (tidak asal-asalan).

Seperti yang pernah saya alami beberapa tahun kebelakang, karena kurangnya informasi mengenai cara ternak maupun budidaya ikan lele ini maka hasilnya pun jauh dari kata maksimal. Dengan alasan seperti itu maka dicatatan singkat ini saya akan mencoba berbagai info bagaimana teknik atau cara ternak dan budidaya ikan lele agar mendapatkan hasil akhir yang maksimal.

Panduan cara budidaya ikan lele ini bersumber dari buku yang berjudul “LELE” yang ditulis oleh Indriyadi Hastoro. Namun saya tulis kembali dengan menambahkan kata - kata saya sendiri dengan maksud supaya lebih mudah dipahami.

Panduan Cara Ternak Ikan Lele atau Budidaya Ikan Lele

cara ternak lele, ternak ikan lele, budidaya ikan lele, cara budidaya ikan lele, ikan lele

Lokasi dan media untuk budidaya ikan lele

  •  Ketinggian lokasi untuk budidaya ikan lele didaerah dataran rendah hingga dataran tinggi (sekitar 700 m dpl). Sedangkan  suhu ideal untuk kehidupan ikan lele antara 25-28°C.
  •  Untuk pertumbuhan larva antara 26-30°C.
  •  Pada masa pemijahan antara 24-28°C, dan untuk tingkat keasaman (pH) air kolam berkisar 6,5-9.
  •  Adapun tingkat kesadahan (derajat butiran kasac) maksimal 100 ppm dan optimal 50 ppm.
  •  Kekeruhan air (turbidity) yang akan disebabkan oleh lumpur antara 30-60 cm, untuk mengukurnya bisa mnggunakan alat yang disebut sicchi disk.
  •  Kemudian kadar oksigen (O2) untuk ikan lele dewasa 0,3 ppm sampai jenuh untuk burayak/anak lele. Kandungan CO2 harus kurang dari 12,8 mg/liter pada suhu perairan 25°C dan ammonium terikat 147,29-157,56 mg/l.

Walaupun ikan lele termasuk ikan yang dapat beradaptasi dilingkungan kondisi air minim, kualitas jelek, keruh, kotor serta sedikit oksigen, namun untuk menjaga kualitas ikan lele dan hasil budidaya yang maksimal sebaiknya air kolam untuk pemeliharaan sebaiknya tidak tercemari oleh limbah yang berbahaya.

Pembibitan ikan lele


Dalam menjalankan budidaya, tahap pembibitan sangat penting dan harus dipersiapkan dengan baik.

Penyiapan induk lele

Ciri-ciri induk jantan dan induk betina

Lele jantan ciri-cirinya:

  •    Ukuran kepala lebih kecil
  •    Warna kulit dada atau dasar badan lebih gelap dibanding induk betina
  •     Urogenital papilla (kelamin) agak menonjol (meruncing) memenjang ke arah belakang. Terletak dibelakang anus dan berwarna kemerahan
  •     Gerakannya lincah
  •     Tulang kepala pendek dan agak gepeng/pipih(depress)
  •     Perut lebih langsing
  •     Jika bagian perut di-stripping secara manual dari perut ke arah ekor, akan keluar cairan putih kental (spermatozoa;mani)
  •     Kulit lebih halus dibandingkan induk lele betina.

Lele betina cirri-cirinya:

  •     Ukuran kepala lebih besar
  •     Warna kulit dada atau dasar badan agak terang
  •     Urogenital papilla (kelamin) berbentuk oval (bulat daun), berwarna kemerahan, lubangnya  agak lebar, dan terletak di belakang anus
  •     Gerakannya lamban
  •     Tulang kepala pendek dan agak cembung
  •     Perut gembung dan lunak
  •     Jika bagian perut di-stripping secara manual dari bagian perut ke arah ekor, akan keluar cairan kekuning-kuningan (ovum/telur)
  •     Kulitnya lebih kasar dibandingkan lele jantan

Induk lele yang dipilih harus cukup umur. Lele lokal mulai dewasa saat berumur 6-8 bulan. Pada umur ini, bobot badan lele lokal mencapai 100 g. Untuk lele dumbo mencapai dua atau tiga kalinya (200-300g). Artinya, pada umur ini induk lele sudah dapat bertelur. Selain itu, pilih induk yang memiliki panjang badan sekitar 20-50 cm.

Untuk budidaya, induk lele hendaknya berasal dari hasil budidaya yang telah terbiasa dengan kehidupan kolam.

Persiapan kolam pemijahan


Bagian dasar dan dinding kolam sebaiknya dibuat permanen. Jika tidak memungkinkan, pemijahan dan pemeliharaan lele dapat dilakukan dikolam tanah atau kolam berdinding dengan dasar tanah. Kemiringan tanah dasar kolam dibuat sekitar 5-10 derajat.

Kolam pemijahan terdiri dari dua bagian utama, yaitu bagian dangkal (70%) dan kubangan (30%). Bagian kubangan dibuat dibagian tengah kolam dengan kedalaman 50-60 cm. Kubangan ini berfungsi sebagai tempat berlindungnya induk ketika kolam disurutkan.

Dalam pemijahan lele, pada sisi-sisi kolam perlu disiapkan sarang peneluran. Bagian dalam bak pemijahan perlu dilengkapi sarang berupa kotak kayu tanpa dasar berukuran (25 x 40 x 30) cm sebagai sarang pemijahan.

Bagian atas kotak sarang diberi lubang dan tutup untuk melihat adanya telur dalam sarang. Sementara itu, bagian depan kotak sarang sedikit gelap. Sarang juga perlu diberi ijuk dan kerikil sebagai media menempatkan telur hasil pemijahan.

Selain dari kotak kayu, sarang pemijahan juga dapat dibuat dari tumpukkan batu bara, ember plastic, atau batang bekas lainnya. Sebelum digunakan, kotak sarang harus berada dalam kondisi higienis. Oleh karena itu, bersihkan sarang dengan mencucinya menggunakan air, lalu bilas dengan formalin 40% atau KMnO4, kemudian bilas dengan air bersih dan keringkan.

Pemijahan


Pemijahan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu pemijahan alami dan pemijahan buatan (suntik/hipofisasi).

Dalam proses pemijahan alami ini ada dua cara yaitu, Pemijahan berpasangan dan Pemijahan massal, namun dicatan ini saya akan menginformasikan hanya pemijahan berpasangan saja.

Lele memijah sepenjang tahun. Pemijahan paling banyak terjadi bersamaan dengan datangnya musim penghujan, sepenjang musim hujan hingga peralihan musim kemarau. Sepanjang hidupnya, induk lele budidaya mampu memijah hingga 15 kali. Induk lele yang dipelihara dengan baik akan bertelur setiap 2-3 bulan sekali dan akan terus bertelur hingga berumur 5 tahun.

Selama 10 hari, terhitung dari sejak induk dimasukkan ke kolam pemijahan, ketinggian air kolam yang dimasukkan hanya sebatas permukaan kubangan (30-60Cm). pada hari ke 10-20, air kolam dinaikkan sampai 10-15 cm (hingga menutup sarang peneluran), dan pemberian pakan dihentikan.

Dengan perlakuan ini, dalam waktu 10 hari berikutnya induk akan memijah dan bertelur dalam sarang yang tersedia. Lebih kurang 24 jam berikutnya, telur akan menetas, burayak bisa tetap berada dalam pengasuhan induk atau dipelihara terpisah dalam kolam ipukan (kolam pendederan).

Pemijahan berpasangan


Pemijahan secara berpasangan tidak jauh berbeda dengan pemijahan alami. Perbedaannya hanya terletak pada ukuran kolam pemijahan yang dibutuhkan. Bak atau kolam pemijahan secara berpasangan dapat dibuat dari semen atau teraso dengan ukuran 1m x 1 m atau 1m x 2 m. Sebagai tempat memijah, kolam perlu dilengkapi sarang pemijahan pada bagian dalamnya.

Setelah kolam pemijahan siap, tebarkan sepasang induk dalam bak yang telah diisi air setinggi sekitar 25 cm. Kondisi air sebaiknya mengalir dan penebaran sebaiknya dilakukan pada pukul 14.00-16.00. Biarkan induk selama 5-10 hari dan berikan pakan secara intensif. Memasuki hari 10 hari, sepasang induk ini biasanya telah berpijah, bertelur, dan menetaskan telurnya dalam waktu 24 jam. Telur-telur yang baik adalah yang berwarna kuning cerah.

Anak-anak lele yang telah menetas dan masih kecil (stadium larva) dapat diberi pakan alami beruapa kutu air atau jentik-jentik nyamuk. Setelah ukurannya bertambah besar. Anak lele dapat diberi cacing dan kuning telur rebus.

Penetasan


Penetasan telur dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:

1.    Ditetaskan dikolam ipukan/pendederan

2.    Dibiarkan menetas secara alami disarang yang terdapat pada kolam pemijahan.

Cara 1

Terdapat langkah-langkah yang ditempuh jika telur dipelihara dalam kolam ipukan (kolam pendederan), yaitu:

•    Segera keluarkan telur begitu pemijahan selesai.

•    Pelihara secara intensif telur-telur tersebut dalam kolam ipukan (kolam pendederan).

•    Pertumbuhan larva membutuhkan suhu air kolam antara 26-30°C.


Cara 2

Jika dibiarkan berada dalam asuhan induknya, biarkan telur menetas dan pemisahan burayak dengan induk dilakukan secara bertahap.

Adapun pemisahan induk dan burayak dilakukan dengan tahapan berikut.

•    Saat benih berumur seminggu, segera pisahkan induk betina dari kolam dan biarkan pejantan tinggal di kolam menjaga anak-anaknya.

•    Setelah berumur 2 minggu, pisahkan anakan dari induk jantan. Selanjutnya, keluarkan anakan lele dari sarang dan pindahkan ke kolam ipukan (pendederan).

Untuk mengumpulkan burayak, terlebih dahulu air kolam disurutkan hingga sebatas kubangan. Selanjutnya, benih dialirkan melalui pipa pengeluaran dan burayak lele yang sudah dipindahkan ke kolam pendederan dapat dipelihara secara intensif.

Pembesaran Benih


Setelah menetas, benih hasil pemijahan perlu mendapat perhatian ekstra dan pemeliharaan intensif. Pemeliharaan  intensif ini diharapkan mampu menekan angka kematian benih dan membuat pertumbuhan benih menjadi lebih pesat.

Pemberian pakan


•    Pada hari ke-1 sampai ke 3, benih lele tidak perlu diberi pakan tambahan karena masih memiliki kantong kuning telur (yolk sac) yang dibawa sejak menetas.

•    Hari ke-4 hingga akhir minggu ke-2, benih diberi zooplankton, yaitu daphnia dan artemia yang mengandung protein 60%. Dosisnya 70% kali biomassa setiap hari. Dua jenis pakan alami ini diberikan 4 kali sehari. Pakan ditebar di sekitar tempat pemasukan air (inlet).

•    Kira-kira 2-3 hari menjelang pemberian pakan zooolankton berakhir, benih lele sedikit demi sedikit dikenalkan dengan pakan berbentuk tepung yang mengandung protein 50%. Pakan tepung tersebut dapat berupa campuran kuning telur, tepung udang, serta sedikit bubur nestum. Untuk membiasakan pada pakan baru tersebut, pakan bentuk tepung diberikan sekitar 10-15 menit sebelum pemberian zooplankton.

•    Minggu ketiga, pakan tepung diberikan sebanyak 43% kali biomassa setiap hari.

•    Minggu keempat, pakan tepung diberikan sebanyak 32% kali biomassa setiap hari.

•    Minggu kelima, pakan tepung dberikan sebanyak 21% x biomassa setiap hari.

•    Minggu keenam, benih diberi pakan berupa pellet apung.

Pendederan dan pembesaran


Pemeliharaan benih lele dilakukan di kolam ipukan (pendederan) dengan melalui tiga tahapan pendederan, yaitu pendederan 1, 2, 3.

kolam pendederan 1 digunakan untuk merawat benih hingga ukurannya mencapai sekitar 1-3 cm. kepadatan kolam pendederan untuk benih seukuran ini antara 60-100 ekor/m².

Selanjutnya, benih ukuran 3 cm ini dipelihara lebih lanjut pada kolam ipukan 2 hingga usianya mencapai 21-30 hari dan panjangnya sekitar 5-6 cm. Benih seukuran ini dapat dipelihara kembali dalam kolam ipukan 3 atau bisa juga dijual sebagai benih.

Selepas dipelihara dalam kolam ipukan (kolam pendederan) 3 hingga umurnya menginjak 35-45 hari, panjang badan lele telah mencapai 10-15 cm. Benih seukuran ini akan cepat besar apabila dipelihara dalam kolam pembesaran.

Walaupun panduan cara ternak dan budidaya ikan lele ini sangat singkat, tapi bagi anda yang mau memulai ternak atau budidaya lele, info panduan di atas tadi semoga jadi nilai tambah bagi anda dan semoga menjadi informasi yang bermanfaat, namun bagi anda yang ingin mendapatkan info yang lebih lengkap silahkan baca saja bukunya.

Anda juga bisa membaca postingan sebelumnya di blog ini dengan judul :

Pakan alami dan buatan untuk ikan lele
Cara ternak kutu air untuk pakan ikan

Sumber : Buku berjudul “LELE” yang ditulis oleh Indriyadi Hastoro dan diterbitkan olah Dinamika Media.
Sumber Gambar : http://anambrayouthfarmers.blogspot.com/

Tonie - 1:01 AM

Saturday, May 17, 2014

Kandang Kambing Untuk Ternak Kambing

Saturday, May 17, 2014

Kandang Kambing

Kandang salah satu fasilitas tempat tinggal kambing yang sangat penting, sebab kandang kambing sangat berpengaruh bagi perkembangan kambing tersebut. Adapun beberapa fungsi kandang diantaranya :
  • Sebagai tempat bernaung di waktu  malam hari
  • Sebagai tempat berlindung dari gangguan panas matahari, hujan atau bila ada angin yang sangat kencang.
  • Untuk kambing itu sendiri, kandang merupakan tempat yang paling aman dan praktis buat melahirkan anak-anaknya.
  • Bisa juga kandang tersebut kita pergunakan untuk mengadakan perkawinan atau “pemacekan” kambing. Dengan demikian kambing-kambing itu akan dapat mengadakan perkawinan dengan rasa aman, dan
  • Dengan adanya kandang, bisa juga kita pergunakan untuk mengawasi kambing-kambing tersebut, apakah kambing itu sehat semua atau ada yang terjangkit sesuatu penyakit.
kandang kambing, ternak kambing, cara membuat kandang kambing, cara memelihara kambing, cara merawat kambing, cara ternak kambing, usaha ternak kambing, budidaya kambing


Karena kita telah mengetahui akan keperluan dan kepentingan kandang itu, selanjutnya perlu kita mengetahui bagaimanakah bentuk kandang kambing yang baik dan memenuhi syarat. Syaratnya antara lain kandang harus kita tempatkan ditempat yang menguntungkan bagi si kambing maupun buat kita yang memelihara. Artinya aman buat si kambing dan juga aman buat pemeliharanya.

Sedangkan bahan untuk membuat kandang kambing, bisa saja kita ambilkan dari bahan-bahan yang murah dan kalau perlu apa saja yang sudah tersedia di tempat. Misalkan ada kayu atau pun potongan-potongan bambu yang sudah tidak terpakai, asal saja masih kuat. Kayu atau pun bambu kita perlukan untuk membuat tiang, dinding, ataupun alasnya. Kalau atapnya sebaiknya kita pergunakan saja daun alang-alang yang telah dikeringkan dan diikat menjadi satu dengan bentuk pipih, kalau kita mau menghemat biaya, bila ada biayanya bisa juga kita pergunakan genting.

Telah kita ketahui dibagian depan, bahwa hewan kambing adalah binatang yang punya sifat lincah dan gairah hidupnya tinggi. Serta merupakan binatang yang suka mendaki, maka untuk membuatkan kandang harus kita sesuaika dengan sifat-sifatnya. Kandang tersebut haruslah kita buat agak tinggi. Misalnya saja setengah meter dari  permukaan tanah, dengan demikian maka kandang tersebut mempunyai kolong.

Untuk membuat kandang sehat, kandang itu harus kena sinar matahari. Sebaiknya sinar matahari dapat menerobos masuk kandang di waktu pagi. Hal yang harus diperhatikan, yaitu adanya pergantian udara dalam kandang dan kandang harus kuat menahan angin.

Kandang kambing ini memang dapat kita buat dengan system kandang tunggal atau pun system kandang ganda. Namun pembuatan kandang tersebut memang sebaiknya disesuaikan saja dengan berapa kambing yang kita pelihara.

Patokan - Patokan Membuat Kandang Kambing


1. Kandang kambing jantan
Untuk seekor kambing jantan memerlukan kandang seluas: 1 x 1,5 m.

2. Kandang kambing betina
Biasanya kandang kambing betina, akan dibuatkan untuk kandang betina yang besar dan bunting serta mempunyai anak satu,atau dua ekor. Untuk keperluan ini ukurannya adalah: 1 x 1,5 m. kalau hanya untuk keperluan kambing betinanya saja adalah : 0,8 x 1,5 m. kalau kita mau membuatkan kandang untuk 10 ekor kambing yang kita campur sekaligus, dapat dipergunakan ukuran 1,5 x 7,5 m atau minimal dapat pula dipergunakan ukuran 1,5 x 6 m.

3. Dinding 
Agar kambing kita tidak terkena angin yang kencang, sebaiknya unutk dindingnya dibuat secara tertutup. Untuk dinding kandang ini dapatlah kita buat dari bilik bamboo yang tebal atau pun dari papan. Yang penting kuat, sebab kambing suka membenturkan kepalanya ke dinding. Sedangkan untuk penyekat kandang, dapat kita pergunakan bambu yang dibelah-belah dan jarang jaraknya. 

Kalau yang untuk menghadap k etempat makanan, kita harus mengatur dengan jarak antara 20-25 cm. ini kita buat dengan maksud agar kepala kambing itu bisa keluar untuk mengambil makanannya. Kemudian kita juga harus membuatkan pintu yang besarnya relative, menurut kebutuhan. Usahakan pintu berada dibelakang. Selain membuatkan pintu kita harus membuatkan pintu kita harus membuatkan tangga untuk menopang kambing keluar masuk ke dalam kandang.

4. Tempat makanan
Rak tempat makanan harus kita tempatkan di tempatkan yang tidak mudah terkena sinar matahari ataupun kena hujan. Adapun besar kecilnya rak tempat makanan itu sebenarnya tidak ada patokannya, asal saja dapatmenampung makanan yang berupa rumput-rumputan untuk sehari penuh. Namun untuk para calon pemelihara yang belum berpengalaman, baiklah kita berikan saja pedoman sebagai berikut:

Bagian  dasar selebar 25 cm.
Bagian atasnya selebar 5-40 cm.
Dalam rak berantara 50 cm.
Jarak dengan lantai dapat setinggi 25 cm.
Bahan untuk tempat makanan ini dapat dibuat dari bamboo yang dianyam, denagn demikian tidak banyak makanan yang jatuh tercecer.

5. Lantai
Untuk pembuatan bahan lantai, seharusnya kita memilih bahan-bahan yang tehan terhadap air kencing. Paling baik kalau kita pergunakan bamboo-bambu yang telah tua atau bamboo-bambu yang telah kita rendam didalam air dalam waktu yang cukup lama. Supaya kotoran yang jatuh dilantai itu bisa keluar, maka kita harus mengatur antara bambu-bambu yang kita buta lantai itu dengan jarak antara 1-1,5 cm. 

Kemudian kandang  dibuat mempunyai kolong, maksudnya kalau kotoran yang jatuh kekolong itu berbau tak enak dan membuat kandang sendiri sehat kembali. Apalagi kalau terus setiap pagi kena sinar matahari. Tanah dibawah kolong itu, bisa berupa tanah biasa. Akan tetapi baik juga kalau dibuat semen plesteran dan diberi lubang sedalam 0,5 m untuk menampung kotoran-kotoran kambing. Setelah 3 bulan kotoran tersebut bisa diambil dan dipergunakan sebagai pupuk. Bila kita mengusahakan pertanian, pupuk tersebut dapat kita pakai sendiri. Kalau kita tidak mempunyai tanam-tanaman, pupuk tersebut bisa dijual.

6. Atap
Untuk atap ini kita harus mengusahakan agar supaya tidak bocor. Lalu kalau kita mempergunakan system kandang tunggal yang mempunyai rak tempat makanan diluar, maka kita harus juga nmengusahakan agar supaya rak makanan tersebut tidak terkena air.

Sebanarnya kalau kita akan membicarakan tentang kandang, semua itu hanyalah menurut selera sendiri. Berapa banyak kambing-kambing yang akan dipelihara, dan bentuk kandangnya dapat dirancang yang sesuai dengan kebutuhan.

Lalu yang penting pula untuk diketahui, memelihara pejantan kambing yang akan digunakan sebagai pemacek, haruslah dikandangkan tersendiri. Sebaiknya kambing jantan kandangnya diletakkan ditengah-tengah kambing betina yang telah dewasa. Dengan demikian baik kambing jantan maupun kambing-kambing betina masih terus mempunyai gairah nafsu seksual yang tinggi.

Setelah anda mengetahui informasi tentang cara membuat kandang kambing, selanjutnya anda dapat membaca postingan sebelumnya tentang panduan Ternak Kambing (klik untuk membacanya)

Sumber Buku : Cara Beternak KAMBING, Penerbit : Aneka ilmu
Sumber Gambar : http://kambingperahbandung.blogspot.com/

Kalau artikel ini bermanfaat bagi Anda, tolong share keteman anda melalui google plus [g+] dengan cara mengklik tombolnya di bagian bawah halaman ini. Terima kasih atas partisipasinya.



Tonie - 12:37 AM

Wednesday, May 14, 2014

Kambing Etawa Dan Janis Jenis Kambing Lainnya

Wednesday, May 14, 2014

Bagi anda yang akan memulai ternak kambing ettawa, kacang, jawarandu, dll sebelumnya kita harus mengetahui akan asal-usul binatang itu sendiri terlebih dahulu dan beberapa jenis kambing yang dapat diternakan. Kambing yang dipelihara ole para peternak pada saat ini berasal dari kambing keturunan kambing gunung.

ternak kambing, kambing etawa, jenis jenis kambing, kambing ettawa, kambing jawarandu, usaha ternak kambing, cara beternak kambing, budidaya kambing, cara ternak kambing, kambing, kambing kacang
Kambing liar tersebut merupakan binatang yang penuh gairah hidup dan lincah serta mempunyai kesukaan mendaki. Para ahli juga menyatakan, bahwa ada  jenis kambing liar yang diduga sebagai cikal bakal atau nenek moyang dari seluruh jenis kambing liar yang diduga sebagai cikal bakal atau nenek moyang dari seluruh jenis kambing yang sekarang dipeliahar orang. 

Ketiga jenis kambing  liar tersebut adalah sebagai berikut.




Caprafalconen
Menurut penelitian Jenis kambing liar ini berasal dari daerah sepanjang pegunungan di Khmeer.

Capra-pasca
Kambing liar ini asalnya dari daerah sepanjang semenanjung Balkan.

Capra-Hircus atau Capra-Aegagrus
Sementara ahli mengatakan, kambing liar jenis ini berasal dari daerah Pakistan dan Turki.
Oleh karena adanya modifikasi (penyesuaian bentuk luar tubuh terhadap lingkungan), maka sekarang kita mengenal bentuk kambing seperti yang sering kita lihat dan pelihara. Sekarang ini, juga banyak dikenal sebagai kambing jenis susu dan jenis daging.

Sedangkan  kambing yang berada di Indonesia sekarang ini berasal dari:
Kambing asli yang diternakkan turun menurun;
Kambing impor yang diternakkan secara khusus, dan Perkawinan campuran antara kambing impor dengan kambing asli yang ada di Indonesia.

Jenis-jenis Kambing

Kambing jenis susu

a.  kambing Soanen
Adapun asal  dari kambing Soanen dari lembah Soanen di Swiss. Ciri-ciri dari kambing Soanen adalah sebagai berikut.
  • Secara umum berwarna putih dan krem.
  • Baik jantan maupun betinanya, tidak mempunyai tanduk.
  • Dahinya kelihatan lebar, telinganya sedang dan tegak.
  • Kakinya lurus dan kuat.
Untuk jenis kambing Soanen, seharinya bisa menghasilkan susu sebanyak 3-4 liter.

b . Kambing Toggenburg
kambing ini pun berasal dari Swiss, banayk terdapat di lembah Toggenburg.
Ciri-ciri dari jenis kambing ini adalah sebgai berikut.
  • Warnanya cokelat, biasanya pada kaki bagian bawah berwarna putih, dan begitu juga denagn bagian samping dari mukanya serta dibawah pangkal ekor.
  • Baik yang jantan maupun betina tidak mempunyai tanduk.
  • Telinganya agak besar dan berdiri tegak.
Untuk kambing jenis ini seharinya bisa mneghasilkan susu sebanyak 3-4 liter.

Kambing pedaging

a. Kambing jawarandu
kambing ini hasil persilangan antara kambing Kacangan dengan kambing Ettawa.jenis ini sampai sekarang banyak terdapat disepanjang pantai pesisir pulau Jawa.
Kambing jawarandu mempunyai sifat-sifat seperti kedua kambing yang menjadi ayah dan induknya, yaitu sifat kambing Ettawa dan Kacangan.

b. Kambing kacangan
kambing kacangan ini adalah kambing asli dari Indonesia, lincah, kecil, dan suka mendaki. Sedangkan kalau kita perhatikan warnanya, mempunyai warna yang tidak seragam. Banyak yang kita dapatkan berwarna hitam, putih, coklat, atau bahkan yang campuran. Karena bentuk kambing kacangan ini kecil, maka orang sering menyebutnay dengan nama kambing kerikil. Kambing jenis ini banyak terdapat di daerah-daerah pegunungan terutama di Pulau Jawa.

Adapun cirri-ciri dari kambing kacangan ini adalah:
  • Kepalanya kelihatan ringan dan telinganya pendek;
  • Pertumbuhan tanduknya tidak subur, tanduk kambing kacangan yang jantan panjangnya± 10 cm, dan betinanya bertanduk ±3 cm;
  • Antara pangkal tanduk berjarak ±3 cm; dan
  • Rambut pada kambing betinanya agak pendek, sedangkan untuk yang jantan agak panjang.
c. Kambing Ettawa
Untuk jenis kambing ini berasal dari daerah Jumnapari India. Dinas peternakan di Indonesia telah memperkenalkan jenis kambing ini kepada masyarakat, dengan maksud untuk memperbaiki kambing-kambing di Indonesia telah memperkenalkan jenis kambing ini kepada masyarakat, denagn maksud untuk memperbaiki kambing-kambing di Indonesia. Yaitu dengan cara mengawinkan dengen jenis kambing Kacangan. Karena kambing Ettawa ini dipakai sebagai bibit, maka haruslah mempunyai syarat-syarat tertentu sebelum dipilih sebagai pejantan atau induk bibit unggul.

Adapun syarat-syaratnya adalah sebagai berikut.
  • Bentuknya harus besar dan baik
  • Kepalanya harus tegak, badannya kuat, dan kenyal.
  • Hidungnya melengkung, telinganya panjang dan menggantung. Dapat pula disertai denagn ujung telinga sedikit menonjol keatas.
  • Panjang telinga kambing jantannya dapat mencapai 27 cm. Sedangkan panjang telinag betinanya bisa mencapai 25 cm. Lebar telinga kambing jantan bisa mencapai 8 cm-13,5 cm. kemudian lebar telinga betinanya bisa mencapai 8cm-13,5 cm. kemudian lebar telinga betinanya bisa mencapai 7,5-10 cm.
  • Kakinya panjang dan tegak, kemudian pada kaki bagian belakang sering ditumbuhi dengan bulu-bulu.Bulu itu kelihatan panjang. Selain dikaki, bulu yang panjang itu pun sering terlihat di ekornya.
  • Kulitnya mudah lepas kalau ditarik, tetapi kemudian cepat pula kembali lagi seperti semula.
  • Tinggi punggung pada kambing jantan yang berumur 2 tahun dapat mencapai antara 90-105 cm. Tinggi punggung buat betina yang berumur 3 tahun antara 75-85 cm.
  • Panjang badannya lebih pendek sedikit apabila dibandingkan dengan tinggi punggung, dan ini hanya berkisar selisih 5 cm
  • Warna kambing pada umumnya belang-belang hitam putih, merah ataupun bisa juga cokelat putih.
  • Untuk jenis kambing ini selain dipelihara untuk diambil dagingnya, juga bisa diambil susunya, dengan produksi seharinya 3 liter.
d. Kambing kosta
Jenis kambing ini berasal dari Persia. Karena bentuknya besar maka jenis ini banyak terdapat dikota-kota besar seperti  Jakarta, Semarang, Bandung, dan Surabaya. Diternakkan khusus untuk diambil dagingnya.
Cirri-ciri dari jenis kambing Kosta ini adalah:

  • Tanduknya pendek dan telinganya panjang, dan
  • Profil lurus ataupun kalau berlekuk-lekuk, maka lekuk itu sangat sedikit. Sedangkan yang dimaksud dengan profil adalah garis lurus yang ditarik dari tengah-tengah antara dua tanduk ke tengah-tengah hidung.

Kambing jenis bulu

Untuk keperluan ini biasanya diambilkan dari Kambing Angora. Kambing Angora sendiri ini berasal dari daerah Turki.
Adapun bentuk-bentuk umum yang menjadi cirri-ciri kambing Angora adalah sebagai berikut:
  • Warnanya putih atau bisa juga berwarna krem
  • Baik yang jantan maupun yang betina selalu mempunyai tanduk.
  • Telinganya rebah namun tidak selalu mempunyai tanduk
  • Bulunya sangat tebal dan panjang, sering dikenal dengan nama istilah Mohar. 
  • Berat badannya dapat mencapai 80 kg.
Kambing jenis ini biasanya diternakkan untuk diambil bulu-bulunya, karena selain bisa dibuat permadani, sebagai bahan wool yang sangat terkenal didunia. Bahkan kalau di Australia, untuk jenis kambing ini dipelihara sampai puluhan ribu dipadang rumput yang terbuka. Hingga tidak mengherankan bila Negara tersebut dapat menghasilkan produksi wool yang baik dan terkenal diseluruh dunia.

Jenis-jenis Kambing di atas sebetulnya hanya sebagian contoh yang ada di indonesia, karena sebetulnya jeni-jenis kambing di seluruh dunia ini sangat banyak lagi jenisnya.

Untuk selanjutnya silahkan baca / klik di sini cara Ternak Kambing

Kalau artikel ini bermanfaat bagi Anda, tolong share keteman anda melalui google plus [g+] dengan cara mengklik tombolnya di bagian bawah halaman ini. Terima kasih atas partisipasinya.


Sumber Buku : Cara Beternak KAMBING, Penerbit : Aneka ilmu
Sumber Gambar : http://farmbusinessideas.blogspot.com/



Tonie - 4:07 AM

Friday, May 2, 2014

Tempat dan Media Budidaya Ternak Cacing Tanah

Friday, May 2, 2014

Bagi anda yang akan memulai ternak atau budidaya cacing tanah mungkin belum mengetahu apa saja median atau tempat yang bisa dipergunakan untuk ternak cacing tanah ini, untuk itu kita langsung saja lihat di bawah ini untuk lebih jelasnya.

Media ternak cacing, media budidaya cacing, media budidaya cacing tanah, cacing tanah, budidaya cacing tanag, budidaya cacing, ternak cacing
Wadah pemeliharaan adalah bak yang dapat diisi sarang (media) dimana cacing tanah dapat hidup dan berkembang biak di tempat tersebut.



Ada dua pilihan dalam membuat bahan bak, yakni:

1. Bak permanen
Bak ini dapat dibuat dari bahan bata merah/batako, semen, pasir.  Bentuknya bisa seperti kolam ikan atau bak mandi. Ukurannya tergantung keinginan kita, karena tidak ada patokan ukuran yang pasti. Jadi akan lebih baik disesuaikan tersedianya tempat yang dimiliki. Namun dari hasil pengamatan para  peternak menggunakan ukuran panjang 2,5 meter. Lebar 75-100 cm dan tinggi 30 cm. Bak ukuran tersebut untuk menampung 1000 sampai 2000 ekor bibit cacing tanah dewasa atau sekitar satu setengah kilogram cacing.

2. Bak semi permanen
Dalam pembuatan bak ini dapat menggunakan bahan dari ember plastic, besek, papan kayu, tong, dan lain-lain. Bila menggunakan ember plastik, pilih yang bentuknya oval ukuran 50 x 40 x 25 cm (pxlxt), dan diisi sarang atau media setinggi 15-20 cm. demikian pula apabila menggunakan bahan dari besek dapat memilih ukuran seperti tersebut atau tergantung dari ukuran yang sudah tersedia ditoko/warung penjual besek. 

Khusus bahan dari papan kayu ukurannya tergantung selera masing-masing. Setiap ember plastik ataupun besek ukuran tersebut diatas menampung ±1/2 (setengah) ons bibit cacing tanah.

Bahan bak seperti ember, besek maupun papan kayu kemudian ditempatkan diatas rak tersusun dari kayu reng. Sehingga dapat menghemat tempat, mudah dipindah-pindah tempatnya. Untuk meletakkan rak tersebut dapat menggunakan atau memanfaatkan tempat kosong dalam ruangan  rumah, gudang, garasi yang tidak terpakai.

Bahan media (sarang)

Media atau sarang untuk cacing tanah dibuat dari berbagai macam bahan. Sarang atau media ini selain berfungsi sebagai tempat hidup dan berkembang biak juga sebagai sumber makanan. Oleh karena itu semakin banyak bahan yang digunakan semakin sedikit makanan yang diberikan.

Bahan-bahan sarang atau media yang baik adalah kotoran ternak, serbuk gergaji, jerami (padi, jagung), sekam, dedak, serutan kayu, rumput atau daun-daun kering, lumpur selokan, ampas tebu, kompos, dsb. Satu bahan yang harus ada adalah kapur tembok, untuk bak ukuran 1 x 2,5 x 0,3 meter diperlukan 0,5 kg kapur. Serbuk gergaji, sekam dan jerami dapat saling mengganti atau diperlukan salah satu. Bahan ini berfungsi untuk menjaga porositas sarang.

1. Syarat media yang baik adalah sbb:

- Mempunyai daya serap air yang tinggi
- Selalu gembur dan tidak menjadi padat
- Jika diharapkan sebagai sumber makanan, janagn terlalu tinggi kadar proteinnya.
- Jangan mengandung tanah permukaan.

2. Contoh formula bahan sarang atau media:

- Serbuk gergaji/sekam/jerami : 60%
- Dedak padi         : 10%
- Kotoran ternak (ayam) : 10 %
- Daun-daun/rumput kering : 20%

3. Atau dapat menggunakan formula sbb:

- Serbuk gergaji : 60%
- Daun-daun kering : 10%
- Dedak padi  : 10%
- Kotoran ayam : 10%
- Lumpur selokan : 10%

Cara mengolah bahan media

  1. Bahan-bahan yang panjang seperti jerami, rumput atau daun-daun kering terlebih dahulu dicincang halus
  2. Semua bahan kecuali kotoran ternak atau kompos, diaduk rata masukkan pada suatu tempat dan diberi air secukupnya. Setiap seminggu sekali campuran ini diaduk dan diberi air secukupnya. Setelah matang (kira-kira 1 bulan) dicampur dengan bahan diatas (no.2). perbandingan 70% untuk bahan campuran, 30% kotoran ternak. Kemudian ditambahkan kapur tembok secukupnya.
  3. Di tempat lain, bahan berupa kotoran ternak atau kompos setiap seminggu sekali diaduk dan diberi air secukupnya. Setelah matang (kira-kira 1 bulan) dicampur denagn bahan diatas (no.2). Perbandingan 70% untuk bahan campuran, 30% kotoran ternak.kemudian ditambahkan kapur tembok secukupnya.
  4. Semua campuran tersebut dibiarkan selama 24 jam, kemudian dimasukkan ke dalam bak yang telah disediakan.
Sumber Buku : Budidaya CACING TANAH LUMBRICUS RUBELLUS, Penerbit CV. ANEKA Solo
Sumber Gambar : http://jacksonville.com/

Kalau artikel ini bermanfaat bagi Anda, tolong share keteman anda melalui google plus [g+] dengan cara mengklik tombolnya di bagian bawah halaman ini. Terima kasih atas partisipasinya.


Tonie - 2:40 AM

Thursday, May 1, 2014

Cara Ternak Budidaya Cacing Tanah Lumbricus Rubellus

Thursday, May 1, 2014

Tahap awal untuk melakukan ternak atau budidaya cacing tanah lumbricus rubellus kita harus menyediakan media atau sarang untuk bibit cacing, media perlu diukur PH tanah dengan kertas lakmus dan suhu dengan thermometer, untuk mengetahui ukuran PH dan suhu silahkan lihat di sini tempat hidup cacing, apabila alat pengukur tidak ada kita dapat melakukan pengetesan media dengan cara yang sangat sederhana, yaitu, masukkan bibit sedikit demi sedikit, antara 5-10 ekor bibit. 

cacing tanah, budidaya cacing, budidaya cacing tanah, ternak cacing tanah, cara budidaya cacing tanah, cara budidaya cacing lumbrecus, cara ternak cacing, budi daya cacing, cacing lumbrecus rubellus
Bila media atau sarang tersebut memenuhi syarat, tidak mengandung bahan beracun, zat-zat kimia yang tidak disukai cacing atau PH-nya terlalu tinggi atau terlalu rendah maka cacing tidak akan mau bersarang dan akan tetap berada dipermukaan media. Untuk mengetahui media yang memenuhi syarat untuk hidup cacing silahkan baca di sini media untuk cacing.

Untuk mengatasi hal tersebut, sebaiknya media yang demikian diproses lagi (disiram air dan disaring, sampai tidak ada air yang berwarna cokelat menetas). Ingat media harus selalu dalam keadaan basah tetapi tidak tergenang air. Bila tidak, harus dibuatkan kembali media yang baru. 

Untuk mengetahui apakah media sudah memenuhi syarat atau belum bila dalam waktu 12 jam cacing tetap tenang di dalam media, itu menandakan bahwa cacing tetap betah dan cocok hidup di media tersebut. Kemudian hamparkan bibit cacing yang lain secara merata di atas media. Setelah itu tutup bak-bak tersebut dengan menggunakandaun pisang, kertas Koran atau plastik, yang bertujuan untuk mengurangi penguapan dan sinar matahari.

Setiap bak berupa ember plastik atau besek berukuran 50 x 40 x 30 cm dapat menampung kurang lebih 1 ons bibit cacing atau sekitar 100-130 ekor bibit. Sebagai perbandingan, dari referensi sebuah media (Koran) seorang peternak menebarkan bibit cacing tanah sebanyak 0,50 kg untuk bak ukuran 1 meter persegi.

Pakan Cacing Tanah

Walaupun media atau sarang juga berfungsi sebagai sumber makanan akan tetapi dengan berkembangnya cacing perlu juga diberi makan tambahan dan perlu diperhatiakn bahwa cacing tanah adalah binatang yang senang makanan yang ada dipermukaan sarangnya. Cacing tanah menghabiskan   makanan sama dengan berat badannya dalam 24 jam. 

Porsi makanan yang diberikan menggunakan pola makanan sama dengan berat badan cacing dalam 24 jam, jika dalam satu bak terdapat 1 ons cacing, maka porsi makanan adalah 1 ons dalam 24 jam. pemberian pakan diusahakan dalam bentuk larutan/bubur, dengan perbandingan air: makanan = 1 : 1.
Selama sarang atau media tersebut masih memenuhi syrata sebagai sumber makanan, makanan tambahan tidak perlu diberikan. Tetapi biasanya setelah 1 (satu) bulan, diberikan pakan tambahan.

Pemberian makanan, yang paling ekonomis adalah pemberian makanan yang berupa sampah organic atau sampah dapur, kotoran ternak (ayam, sapi, kerbau, kelinci). Kotoran yang dipakai untuk pakan sebaiknya yang sudah matang, karena kotoran yang masih segar masih mengalami proses penguraian sehingga masih panas. Perlu didiamkan beberapa hari dulu supaya menjadi matang. Dianjurkan memberikan makanan secara bertahap, jangan sekaligus. Karena bila terlalu banyak bisa menyebabkan temperature menjadi naik dan cacing tanah bisa mati.

Untuk produksi kokon (telur), pakan yang diberikan dapat berupa satu macam kotoran hewan yang sudah matang tanpa campuran apapun atau kotoran hewan dengan kompos hijau (dari tanaman atau daun-daunan) denagn perbandingan 30:70.

Untuk menghasilkan cacing tanah yang gemuk, maka pakan harus terdiri atas kotoran hewan dicampur kompos hijauan dengan perbandinagn 2:1 atau dapat juga diberikan kompos hijauan dengan bubur kertas bekas, denagn perbandingan 1 : 1.

Untuk meningkatkan kualitas cacing, bahan makanan bisa ditambahkan dari campuran dedak atau konsentrat yang juga dihancurkan. Makanan ini perlu dihancurkan agar bercampur dengan media (lapisan) yang menjadi tempat berkembangnya cacing.

Yang perlu diperhatikan dalam pemberian pakan pada cacing tanah adalah sebagai berikut:


  • Pakan yang berupa kotoran ternak dimasukkan ke dalam wadah kemudian dicampur dengan air dan diaduk sehingga hancur berupa bubur.
  • Bubur pakan ditaburkan merata tipis-tipis diatas media, tetapi tidak menutupi seluruh permukaan media, sekitar 2-3 cm dari tepi wadah/bak tidak ditaburi pakan.
  • Seluas yang ditaburi pakan ditutupi dengan plastik atau pelepah pisang yang tidak tembus cahaya.
  • Lakukan pemeriksaan besoknya, apakah pakan itu habis dimakan atau tidak. Untuk pemberian pakan berikutnya, apabila masih tersisa terlebih dahulu harus diaduk dan jumlah pakan yang diberikan dikurangi.
  • Pekerjaan pemberian pakan, dilakuakn tiap hari sampai cacing tanah itu dipanen

Perkembangbiakkan Cacing Tanah

Cacing tanah adalah hewan yang memiliki dua kelamin dalam satu tubuh, jantan dan betina (hermaphrodite), akan tetapi tak dapat membuahi dirinya sendiri. Pembuahan tidak akan terjadi tanpa adanya bantuan cacing lain. Perkawinan dilakukan dengan cara meletakkan bagian belakang denagn posisi yang saling berlawanan dan diperkuat dengan seta.  

Pada saat itu klitelium (alat kelamin) masing-masing mengeluarkan lendir untuk melindungi spermatozoa yang dihasilkan oleh alat kelamin jantan masing- masing spermatozoa lalu masuk kedalam kantung penampung sperma dari pasangannya, selanjutnya membentuk selubung cocon (telur cacing) yang bergerak ke arah mulut.

Pada waktu melalui lubang penampungan sperma masuklah spermatozoa ke dalam cocon dan terjadilah pembuahan, selubung cocon harus bergerak ke arah mulut hingga terlepas dari cacing tanah dan membentuk cocon. Cocon kemudian dilatakkan di tempat yang lembab dan akan menetas dalam waktu 14-21 hari kemudian.

Setiap cocon menghasilkan antara 4-7 ekor cacing. Cacing tanah menjadi dewasa setelah berumur 2-3 bulan dan siap berkembang biak. Setiap 7-10 hari cacing tanah akan menghasilkan 1-2 cocon. Diperkirakan seekor cacing tanah akan menghasilkan 1000 ekor anak dalam setahun. Dari beberapa referensi menyebutkan perkembangbiakkan cacing tanah yang diternakkan relative lebih produktif, berbeda dengan  di alam bebas, yang banyak mengalami gangguan binatang lain.

Cara Pemeliharaan Cacing Tanah

Cacing tanah merupakan binatang yang takut akan sinar, karena itu wadah berupa bak harus ditempatkan pada tempat yang teduh dan jika perlu ditutup, terutama pada siang hari. Apabila menggunakan bak permanen  sebaiknya pembuatan bak ditempat teduh, misalnya dibawah pohon dan diberi pelindung atap genteng, supaya tidak kena hujan dan sinar matahari langsung.

Di dalam pemeliharaan, sarang atau media cacing tanah harus dijaga kelembapannya, dengan cara diperciki air setiap hari. Penyiraman diupayakan agar air tidak tergenang dan setelah itu bak-bak selelu ditutup dengan daun pisang., plastik kertas Koran atau karung goni yang telah dibasahi. Disamping itu, pemeliharaan yang perlu dilakukan adalah menghindarkan cacing dari gangguan binatang seperti semut, cecak, tikus, lintah, kecoa, dll. 

Dengan penyiraman dan penggemburan dapat menghindarkan cacing dari gangguan tersebut, atau bak-bak dapat ditutup denagn kasa yang halus. Bila menggunakan bak dari ember plastic, besek yang berada di rak tersusun, untuk menghindari semut, kaki rak diberi tatakan (mangkok, yang diisi olie, air atau serbuk kapur anti semut).

Setelah dua minggu dari masa peletakkan pertama, induk-induk cacing dipindahkan ke media lain sambil menanti kokon-kokokn itu menetas.  Begitu juga setiap 2 minggu berikutnya, induk-induk cacing yang sudah bertelur dipindahkan ke media lain. Perlakuan ini juga untuk anak-anak cacing yang telah berusia 3,5 bulan dan mulai bertelur. Cara memindahkan induk cacing bisa denagn cara langsung mengaduk-ngaduk media dalam “kandang”, bisa juga dengan meletakkan makanan di salah satu sudut kandang hingga induk cacing akan mudah berkumpul dan mudah dipindahkan.

Selama masa pemeliharaan, cacing-cacing itu dibagi dalam beberapa fase.

Fase pertama  : perkembangan , dimulai sejak kokon (telur) menetas menjadi anak cacing hingga usia 2,5 bulan atau 3,5 bulan. Pada usia ini cacing bisa dijual untuk indukan atau bibit.
Fase kedua: usia 4 sampai 7 bulan, yang merupakan masa produktif cacing menghasilkan kokon.
Fase ketiga : usia 7 bulan ke atas, yang sudah tidak produktif lagi.

Cacing-cacing dalam ketiga fase itu semuanya laku dijual dan tentu saja harganya berbeda-beda. Cacing pada fase pertama, biasanya dikonsumsi oleh para peternak cacing untuk  dijadikan indukan. Sedangkan cacing usia fase kedua, lebih banyak dikonsumsi untuk pabrik obat. Dan cacing usia fase ketiga dipakai untuk makanan (pellet) ikan lele. Kalau untuk campuran bahan kosmetik, biasanya dimabil dari usia 4 bulan ke atas, karena kadar crude oil-nya cukup baik.

Hama Cacing Tanah

Selain pemeliharaan  yang telah diuraikan diatas, ada satu hal yang tidak kalah penting adalah pemeliharaan untuk menghindari cacing dari hewan pengganggu,  seperti kodok, ayam, tikus, semut, kelabang, lintah dan lain-lain. Hama – hama tersebut dapat menghabiskan cacing-cacing atau kokon yang ada denagn berbagai cara, sehingga dapat menggagalkan usaha budidaya ini.

Kodok/katak
Salah satu makanan yang  disukai katak adalah cacing, yang perlu diwaspadai apabila ruangan yang digunakan untuk beternak dihalaman yang menggunakan landing dari bak tembok, untuk mencegah agar katak tidak dapat meloncat masuk kandang, sebaiknya kandang diberi tutup kawat kassa dengan lubang yang agak lebar, supaya sirkulasi udara kandang tetap terjaga, tetapi katak tidak dapat masuk ke dalam bak. Berbeda hal nya, bila menggunakan ruangan ( iin door), hal ini kemungkinan katak masuk rumah/ruangan sangat kecil.

Ayam
Demikian pula perlakuan untuk menghindari agar ayam tidak dapat masuk kandang cacing, untuk bak permanen yang tentu saja mudah bagi ayam untuk memangsa cukup aman bagi ayam untuk bisa mengganggu.

Tikus
Baik lokasi ternak diluar maupun didalam ruangan, kedua-duanya sangat memungkinkan bagi tikus, yang merupakan salah satu musuh cacing tanah ini, untuk lokasi yang ada didalam ruangan, denagn system rak susun, paling tidak akan terhindar dari seranagn tikus, namun perlu juga dipuyakan dipinggir-pinggir lantai ruangan bisa ditaburkan kamper/kapur barus, dengan bau kamper dapat menghindari adanya tikus. Usaha lain dapat memasang perangkap tikus dari bahan lem atau jepitan tikus, atau bisa juga menggunakan serbuk racun tikus.

Semut 
Predator yang satu ini, memiliki kelebihan pada penciuman, sehingga apabila ada bau cukup merangsang bagi penciuman semut, dalam waktu yang singkat, semut-semut akan berdatangan. Namun usaha pencegahan terhadap semut ini, relative gampang, yakni dengan cara setiap kaki rak susun diberi tatakan plastic kenudian di isi olie atau bisa menggunakan solar, minyak goring.

Kelabang atau lintah
Untuk menghindari hewan pengganggu seprti kelabang dan lintah, dapat diusahakan dengan cara sering menyirami media, dan bila perlu diatas media diberi daun tembakau.

Sumber Buku : Budidaya CACING TANAH LUMBRICUS RUBELLUS, Penerbit CV. ANEKA Solo
Sumber Gambar : http://www.celagrid.org

Kalau artikel ini bermanfaat bagi Anda, tolong share keteman anda melalui google plus [g+] dengan cara mengklik tombolnya di bagian bawah halaman ini. Terima kasih atas partisipasinya.



Tonie - 7:36 PM

Jenis Jenis Cacing Tanah Dan Tempat Hidupnya

Para ahli sampai saat ini, belum ada kesepakatan ada beberapa jenis khususnya cacing tanah yang hidup dibumi ini. Kendati inventarisasi dan klasifikasi jenis, sudah dilakukan bertahun-tahun, tapi jumlah yang pasti  masih dilacak. Masalahnya berbeda dengan makhluk hidup lain yang tampak di permukaan tanah.

jenis cacing tanah, cacing tanah, cacing lumbricus, cacing lumbricus rubellus, budidaya cacing, ternak cacing, klasifikasi cacing tanahDari referensi diperoleh data ada beberapa jenis cacing tanah di antaranya : terseteris, rubellus, philipines worm. L castaneus, subrubicunde, caliinosa, chlorotica, mamalis, cyneum, feotoida, rosea. Longa, noctuma, javanica, malaccus.

Beberapa jenis cacing tanah yang kini banyak diternakan antara lain malacus dan Rubellus. Kedua jenis cacing tanah ini menyukai bahan organic yang berasal dari pupuk kandang dan sisa-sisa tumbuhan. Cacing tanah jenis lumbricus mempunyai bentuk tubuh pipih, jumlah segmen yang dimiliki 90-195 dan klitelumnya terletak pada segmen 27 sampai 32. Di alam biasanya jenis ini kalah bersaing dengan jenis yang lain sehingga tubuhnya kecil. Namun bila diternakkan besar tubuhnya bisa menyamai atau malah melebihi jenis lain.

Cacing tanah lumbricus adalah kelompok cacing yang termasuk di dalam family lumbricidae yang mendominasi hampir separuh dari spesies cacing tanah yang telah diketahui. Kelompok cacing ini memegang peranan penting dalam banyak bidang, diantaranya dunia pertanian, lingkungan hidup dan peternakan.

Di antara spesies-spesies dari family lumbricidae, yang dikenal adalah lumbricus rubellus, lumbricus tersestis, lumbricus mallacus dan eisenia foetida. Cacing tanah jenis lumbricus rubellus memiliki warna tubuh merah kecokelat-cokelatan, panjangnya sekitar 2-5 inch. Kelebihan dari cacing ini adalah tidak berbau, cepat berkembang biak, tumbuh subur dan mudah beradaptasi dengan berbagai media yang dipergunakan. Cacing tanah jenis lumbricus rubellus ini apabila dimasukkan ke dalam tumpukan sisa organic akan mempercepat penguraian volume sampah dan mempercepat pengomposan.


Tempat Hidup Cacing Tanah

Tempat hidup cacing tanah adalah tanah yang gembur, tempat yang lembap dan gelap, terhindar dari sinar matahari. Oleh karena itu cacing tanah banyak kita jumpai di kebun-kebun yang penuh dengan daun-daun di sekitar kandang ternak, dibawah pohon pisang, dibawah tumpukan sampah, dsb. Cacing tanah lebih aktif dimalam hari, berkeliaran dari satu tempat ke tempat-tempat yang lain. Dengan demikian dalam upaya membudidayakan cacing tanah yang pertama harus dilakukan ialah lingkungan yang sesuai dengan habitatnya. Yang dimaksud lingkungan yang baik adalah kondisi media/sarana memenuhi persyaratan, antara lain sbb:

Kelembaban

Kelembaban sangat diperlukan untuk menjaga agar kulit cacing tanah berfungsi dengan normal, bila udara terlalu kering akan merusak keadaan kulit cacing tanah tersebut. Tetapi bila kelembaban terlalu tinggi atau terlalu banyak air, cacing tanah akan segera lari mencari tempat pertukaran udaranya lebih baik, karena cacing tanah mengambil oksigen dari udara bebas bukan dari oksigen yang ada dalam air. Kelembaban yang baik untuk perkembangbiakkan cacing tanah berkisar antara 15-30%.

Keasaman/ph

Untuk pertumbuhan yang baik bagi cacing tanah, maka diperlukan keasaman/ph tanah antara 6,0-7,2. Keasaman yang tinggi mengakibatkan cacing akan mati.

Temperature /suhu

Suhu yang terlalu rendah maupun suhu yang terlalu tinggi akan mempengaruhi proses fsiologi seperti pernapasan, pertumbuhan, perkembang-biakkan dan methabolisme. Suhu yang hangat akan menyebabkan telur cacing tanah akan cepat menetas. Suhu yang ideal adalah 15-25%C.

Sumber Buku : Budidaya CACING TANAH LUMBRICUS RUBELLUS, Penerbit CV. ANEKA Solo
Sumber Gambar : http://www.dailymail.co.uk/

Kalau artikel ini bermanfaat bagi Anda, tolong share keteman anda melalui google plus [g+] dengan cara mengklik tombolnya di bagian bawah halaman ini. Terima kasih atas partisipasinya.

Tonie - 7:28 AM

Thursday, April 10, 2014

Cara Budidaya Kroto Atau Ternak Semut Rangrang

Thursday, April 10, 2014

Untuk memulai budidaya kroto atau ternak semut rangrang ini ada beberapa tahapan yang harus dilakukan, namun sebelum memulai pada tahapan-tahapan tersebut  sebaiknya kita mempersiapkan peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan untuk memperlancar  budidaya kroto ini. Untuk langkah pertama yaitu kita siapkan terlebih dahulu  peralatan yang dibutuhkan diantaranya : rak susun, toples atau pipa, dan wadah untuk pakan dan minum.

Budidaya kroto, Cara Budidaya Kroto, ternak kroto, Budidaya Semut  Rangrang, cara ternak kroto, budi daya kroto, ternak semut rangrang, budidaya kroto rumahan

Pembuatan Rak Untuk Budidaya Kroto

Rak yang dipakai bisa dari bahan besi, kayu atau pipa yang disambung. Rak besi ini bertujuan untuk koloni semut rangrang agar mereka dapat hidup di sekitar rak itu saja tidak keluar dari area rak tersebut, selain itu dengan  adanya rak tersebut kita dapat memonitor perkembangan  semut rangrang yang ada didalamnya.

Ukuran rak yang standar yaitu memiliki tinggi 1,5 m panjang 2m dan lebarnya 0,5m. Kemudian buatlah tahapan-tahapan pada rak tersebut dengan  ketinggian 30-40 cm dengan alas triplek, dan untuk ketinggian kaki dari batasan lantai ke rak yang paling bawah ukurannya sama yaitu 30 cm, hal ini menjaga semut supaya tidak keluar dari rak.

Sama halnya seperti rak untuk budidaya ulat hongkong, rak untuk budidaya kroto atau semut rangrang pun bagian kaki rak harus memakai wadah yang berisikan air atau oili, hal ini bertujuan untuk menjaga semut keluar dari rak atau kabur.

Rumah Sarang Untuk Semut Rangrang

Media yang biasa digunakan untuk tempat sarang semut rangrang yang sering di pakai oleh para peternak semut rangrang yaitu toples plastik dan pipa.  Apabila kita menggunakan toples maka buatkan lubang pada toples tersebut dengan  diameter 1 cm dibagian samping atas toples, hal ini penting karena lubang kecil ini nantinya akan dijadikan jalur  untuk keluar masuk semut rangrang tersebut pada saat mengambil pakan yang berada diluar toples.

Setelah toples dilubangi maka semut rangrang siap untuk dimasukan, setelah semut masuk pada toples maka toples yang sudah dilubangi tersebut, tutup lubangnya sekitar 2-3 jam hal ini dilakukan supaya semut yang baru mendiami toples tersebut dapat beradaptasi  di dalam toples tersebut.

Sedangkan apabila anda ingin menggunakan pipa pvc atau paralon maka yang harus diperhatikan ukuran pipa tersebut, ukuran pipa yang akan digunakan yang memiliki ukuran 1,5 atau 2 inci, dan perlu diperhatikan bahwa ukuran ini sangat berpengaruh terhadap produktifitas semut tersebut ketika menghasilkan kroto.

Setelah anda mendapatkan pipa yang sesuai, potonglah pipa tersebut dengan ukuran panjang 20 cm, ukuran ini untuk memudahkan penyimpanan pipa tersebut di atas rak.

Tempat Pakan Untuk Semut Rangrang

Seperti yang telah ditulis pada postingan sebelumnya bahwa jenis pakan untuk semut rangrang ada beberapa macam, jenis-jenis pakan ini sangat berpengaruh pada perkembangan semut rangrang dan secara otomatis juga akan berpengaruh terhadap kuantitas dan kualitas kroto yang dihasilkan.
Untuk lebih jelasnya apa saja pakan tersebut silahkan baca dulu di sini Pakan Semut Rangrang.

Setelah kita mengetahui jenis pakan untuk budidaya kroto ini, selanjutnya yang tidak kalah pentingnya yaitu tempat pakannya. Untuk tempat atau wadah pakan ini kita  bisa menggunakan baki atau nampan plastic, jumlah yang disediakan minimal 2. 

Dan yang harus diperhatikan pada tempat pakan ini yaitu harus selalu terisi makanan jangan sampai kosong, biasanya kalau tidak tersedia makanan semut rangrang akan berusaha keluar dari rak tersebut untuk mencari makan. Kemudian satu hal lagi yang perlu diperhatikan yaitu tempat pakan harus selalu bersih.

Cara Menyimpan Bibit Semut Rangrang

Budidaya kroto toples, Budidaya kroto, Cara Budidaya Kroto, ternak kroto, Budidaya Semut  Rangrang, cara ternak kroto, budi daya kroto, ternak semut rangrang, budidaya kroto rumahan
Bagi anda yang mendapatkan bibit semut dari alam, maka anda tinggal meletakkan sarang semut tersebut di atas pipa (paralon) yang sudah dipersiapkan sebelumnya, dan biarkan sampai daun sarangnya mengering. Biarkan koloni semut rangrang tersebut berpindah secara sendirinya, setelah meninggalkan sarang daun tersebut maka kita ambil dan buang daun bekas sarang tersebut supaya tidak mengotori rak tersebut.

Dan apabila anda mendapatkan atau membeli bibit dari tempat pembibitan, maka anda harus menyebarkan bibit tersebut ke susunan selongsong pipa paralon pada rak. Kemudian anda selipkan 1-2 selongsong paralon yang berisi koloni diantara 10-25 selongsong paralon  yang sudah disusun, dengan cara tersebut semut rangrang akan membentuk sarang baru secara alami dengan merajut jaring-jaring dari telur semut, dan secara alami semut-semut tersebut akan menghasilkan kroto-kroto pada tempat tersebut.

Bisnis budidaya kroto ini sangat menjanjikan dari segi ekonomi, seperti yang pernah saya bahas sebelumnya bahwa konsumen kroto tidak hanya di Indonesia saja bahkan sampai juga ke Malaysia (lebih lengkap baca di sini Bisnis Kroto). 

Maka bagi anda yang ingin mencoba atau baru memulai bisnis kroto ini saya sarankan harus memahami terlebih dahulu kehidupan tentang semut rangrang ini, supaya pada saat kita membudidayakan semut rangrang ini kita dapat meminimalisir kegagalan-kegagalan (kerugian).

Dan satu lagi saran saya, apabila anda ingin paham betul tentang panduan cara budidaya kroto modern ini silahkan anda baca buku yang berjudul “kupas Tuntas BUDIDAYA KROTO CARA MODERN” yang ditulis oleh BAYOU PRAYOGA, dan diterbitkan oleh Penebar Swadaya. Buku tersebut mengupas semua seputar kroto dan cara budidayanya secara lengkap.

Selanjutnya anda dapat membaca postingan sebelumnya :

Cara Merawat Murai Batu Untuk Lomba
Cara Ternak Kenari Yorshire


Sumber Buku : Kupas Tuntas BUDIDAYA KROTO CARA MODERN  Penerbit, Penebar Swadaya
Sumber Gambar : http://nestbirds1.com/

Kalau artikel ini bermanfaat bagi Anda, tolong share keteman anda melalui google plus [g+] dengan cara mengklik tombolnya di bagian bawah halaman ini. Terima kasih atas partisipasinya.

Tonie - 6:57 AM

Wednesday, April 9, 2014

Pakan Ternak Semut Rangrang Budidaya Kroto

Wednesday, April 9, 2014

Meningkatnya permintaan  terhadap kroto di pasaran membuat para (pengepul) pemasok kroto di wilayah-wilayah yang terbiasa menyuplai kroto ini sering kewalahan, karena kebanyakan pemasok-pemasok kroto ini mengandalkan dari buruan para pencari semut rangrang atau kroto dari alam.

Budidaya kroto, ternak kroto, Cara ternak kroto, cara budidaya kroto, Budidaya Semut Rangrang, Budi daya Kroto, ternak semut rangrang, budidaya kroto rumahan
Dengan adanya kondisi seperti itulah banyak orang yang mulai melirik semut rangrang ini untuk mencoba dibudidayakan atau budidaya kroto. Memang kalau kita lihat dengan keadaan seperti itu (permintaan yang sangat besar) budidaya kroto ini sangat menjanjikan dari segi bisnis. 

Tiga Cara Ternak Semut Rangrang Atau Budidaya Kroto

Cara ternak atau budidaya kroto ini ada tiga cara yang sering dilakukan oleh para peternak, yaitu ada yang menggunakan cara tradisional, semimodern, dan modern. Dari ketiga pilihan itu ternyata yang paling diminati yaitu dengan cara modern.

Cara modern ini banyak dipilih oleh para peternak kroto karena memiliki cara yang cukup mudah dan episien dari segi tempat atau lahan. Namun walaupun budidaya kroto ini dilakukan sekitar rumah atau disekitar lingkungan rumah tetap ada hal-hal yang harus diperhatikan. 

Diantaranya seperti suhu, suhu yang baik untuk budidaya kroto ini 26°C-34°C dengan tingkat kelembapan relatif sekitar 62%-92%. Dengan  acuan suhu diatas tersebut, apabila kita ingin membudidayakan kroto dilingkungan rumah yang berelokasi di perkotaan, maka sebaiknya kita merekayasanya dengan  berbagai cara agar suhu yang didapatkan semut rangrang tersebut menyerupai di alam aslinya.

Apabila dari segi tempat berkumpulnya koloni semut rangrang ini sudah bisa kita rekayasa sedemikian rupa  (menyerupai alam aslinya), namun dari segi pakan sebaiknya kita harus memahami dan mengetahui terlebih dahulu kebutuhan sesuai dengan habitatnya di alam sana, karena hal ini sangat berpengaruh besar terhadap hasil kroto yang akan kita dapatkan (pada saat panen kroto).

Pakan Semut Rangrang

Semut rangrang yang mendapatkan pakan yang baik akan memproduksi kroto yang maksimal, karena secara tidak langsung asupan pakan yang berkualitas akan mendorong semut rangrang memproduksi kroto yang banyak dan berkualitas.

Tahukaha anda? Ternyata semut juga sangat membutuhkan asupan makanan yang bergizi seperti protein dan karbohidrat. Dua factor inilah yang sangat menentukan kestabilan tubuh semut rangrang supaya optimal dalam menghasilkan kroto. Untuk memenuhi itu semua maka berikanlah semut rangrang dengan makanan seperti ulat hongkong, jangkrik dan gula pasir sebagai sumber karbohidrat.

Ulat Hongkong mengandung protein yang cukup tinggi, maka apabila semut rangrang diberi pakan dengan ulat hongkong ini sangat baik untuk memenuhi proteinnya. Kandungan nutrisi pada ulat hongkong diantaranya, protein kasar mencapai 48%, lemak kasar 40%, abu hingga 3%, kadar air mencapai 57%, serta kandungan bahan ekstra non nitrogen (BETN) sebesar 8%.

Gula Pasir dapat memenuhi kebutuhan karbohidrat yang dibutuhkan semut rangrang, cara pemeberian gula ini terlebih dahulu dilarutkan dalam air, 1 sendok makan gula pasir dapat dilarutkan dalam 200 ml air, air gula ini akan habis dalam waktu 2-3 hari (tergantung banyaknya koloni).

Jangkrik, pakan selanjutnya yaitu jangkrik, jangkrik bisa menjadi sumber protein alternatif disamping ulat hongkong. Biasanya jangkrik akan dihisap oleh semut hanya bagian dalamnya saja, dan setelah habis bagian dalamnya semut rangrang akan membiarkan cangkang jangkrik bagian luaranya.

Untuk mengetahui bagai mana Panduan budidayanya silahkan baca di sini  Cara Budidaya Kroto

Sumber Buku : Kupas Tuntas BUDIDAYA KROTO CARA MODERN  Penerbit, Penebar Swadaya
Sumber Gambar : http://ngm.nationalgeographic.com/


Kalau artikel ini bermanfaat bagi Anda, tolong share keteman anda melalui google plus [g+] dengan cara mengklik tombolnya di bagian bawah halaman ini. Terima kasih atas partisipasinya.

Tonie - 7:42 AM

Tuesday, April 8, 2014

Bisnis Budidaya Kroto Atau Ternak Kroto Menjanjikan

Tuesday, April 8, 2014

Bagi sebagian orang mungkin kehadiran semut rangrang ini sangat mengganggu bagi tanamannya, padahal kalau kita amati lebih lanjut semut rangrang atau kroto ini sangat besar manfaatnya bagi keberlangsungan hidup tanaman tersebut. Karena secara tidak langsung keberadaan semut rangrang atau kroto ini dapat menjaga tanaman tersebut dari serangan hama serangga yang dapat menggangu tanaman tersebut.

Kroto, Budidaya Kroto, Ternak Kroto, Cara ternak kroto, cara budidaya kroto, budidaya semut rangrang, budi daya kroto, ternak semut rangrangItu adalah salah satu contoh manfaat dari keberadaan semut rangrang atau kroto pada tanaman, selain itu manfaat lain dari semut rangrang atau kroto ini yaitu sering dijadikan pakan sumber protein bagi burung ocehan atau bahasa para kicau mania sering menyebutnya extra fooding, disamping jangkrik dan ulat hongkong

Dengan adanya khasiat atau manfaat  dari semut rangrang atau kroto tersebut, ini bisa menjadi ladang usaha atau ladang bisnis bagi kita yang ingin memulai bisnis ternak kroto atau budidaya kroto.

Market Semut Rangrang atau Kroto

Mungkin bagi anda yang sudah mengetahui siapa saja yang paling sering membutuhkan semut rangrang atau kroto ini pasti sudah mengetahui market semut rangrang atau kroto ini, ya seperti para hobiis burung kicauan dan para hobiis ikan atau para mancing mania. 

Namun tahukah anda? kebutuhan untuk memenuhi market tersebut ternyata cukup besar jumlahnya, bahkan negara Malaysia pun untuk memenuhi kebutuhan semut rangrang atau kroto ini mereka mengimpornya dari negara kita. Seperti pulau Kalimantan, Bali, Lombok, dan Sumbawa adalah wilayah penghasil kroto atau semut rangrang terbesar.

Walaupun Mahal, Kroto atau Semut  Rangrang Tetap Laris

Demi meningkatkan kualitas burung ocehan kesayangannya, para hobiis burung ocehan seperti hobiis murai batu, hobiis anis merah, anis kembang, kacer, kenari, Pleci dan hobiis burung ocehan yang lainnya, rela mengeluarkan uang untuk membeli si semut rangrang atau kroto ini, walaupun harganya cukup tinggi.

Di berbagai daerah di Indonesia, harga kroto berkisar Rp 150.000-Rp 200.000/kg, terutama saat suplai sedang berkurang. Di kota besar seperti  Jakarta, harga jual pemburu ke pengepul bisa mencapai Rp 100.000/kg. Harganya bisa melonjak sedemikian rupa karena sarang yang dijual merupakan sarang semut rangrang yang langsung diambil dari alam tanpa dibudidayakan terlebih dahulu.

Factor lingkungan seperti cuaca atau musim membawa pengaruh besar pada nilai ekonomi kroto. Sudah jadi siklus tahunan, setiap musim hujan tiba kroto menjadi barang langka. Di daerah Surakarta, kelangkaan itu membuat harga kroto melejit hingga mencapai Rp 60.000/kg. Di Bandung, kroto dihargai Rp 80.000/kg. Bahkan di Jakarta harganya lebih melonjak lagi. Pada musim kemarau, harga kroto Rp 120.000/kg semantara saat musim hujan bisa mencapai Rp 150.000/kg (sumber : Buku “Kupas Tuntas BUDIDAYA KROTO CARA MODERN”  Penerbit, Penebar Swadaya.)

Cara Budidaya Kroto atau Ternak Kroto

Dengan adanya permintaan yang tinggi terhadap semut rangrang atau kroto ini, maka tidak ada salahnya apabila kita mencoba untuk berbisnis ternak kroto atau budidaya kroto ini.
Namun sebelum memulai budidaya atau ternak sebaiknya kita mengetahui cara atau panduan menernaknya terlebih dahulu. Karena untuk menernakan kroto ini ada tiga cara yang biasa para peternak lakukan, diantaranya, Cara Tradisional, Cara Semimodern, dan Cara Modern.  Untuk lebih jelasnya silahkan baca klik di sini  Cara Budidaya Kroto

Sumber Gambar : http://www.alexanderwild.com/

Kalau artikel ini bermanfaat bagi Anda, tolong share keteman anda melalui google plus [g+] dengan cara mengklik tombolnya di bagian bawah halaman ini. Terima kasih atas partisipasinya.

Tonie - 8:00 AM

Monday, April 7, 2014

Ulat Sutera

Monday, April 7, 2014

Sudah sejak zaman dahulu, ulat sutera diusahakan manusia untuk diambil seratnya sebgai bahan untuk membuat kain tenun yang bermutu tinggi. Sifat ulat sutera yang liar samapi menjadi serangga piaraan seperti yang dikenal dan diusahakan sekarang ini memerlukan ketekunan dan waktu yang cukup lama. Akhirnya ulat sutera yang diusahakan secara sunggug-sungguh menghasilkan manfaat social ekonomi yang cukup tinggi.

ulat sutera, ulat sutra, budidaya ulat sutera, kepompong ulat sutera, ternak ulat sutera, bisnis ulat sutera
Ulat sutera (Bmbyx mori) membutuhkan daun murbei sebagai makanannya. Sebelum mulai pemeliharaan ulat sutera, tanaman murbei harus sudah siap diambil daunnya sebagai bahan makanan.  Ulat yang sudah menjadi serangga piaraan sangat peka terhadap factor-faktor lingkungan.Oleh karena itu, pemeliharaan ulat sutera memerlukan tempat atau ruangan yang memiliki suhu dan kelembapan yang cocok dengan ulat sutera yang dipelihara.

Jenis-jenis ulat sutera

Jenis ulat sutera yang menghasilkan sutera alam berdasarkan kebiasaan hidupnya dibagi dua kelompok.
1. Ulat sutera liar (Wilik Silkworm), yaitu ulat sutera yang biasa hidup bebas dibeberapa pohon.
2. Ulat sutera yang dipelihara di dalam ruangan dan merupakan penghasil utama ulat sutera yang meliputi 95% produksi sutera dunia.

Ulat sutera yang tergolong sebagai ulat sutera liar adalah sebagai berikut.

  • Philosamia ricini Hutt (ulat sutera eri) Ulat ini makan daun jarak (Ricinus communis L) dan di India hasil suteranya disebut ulat eri.
  • Antheraea pernyi Guerin (ulat sutera tasar Cina). Ulat ini makan daun Quercus sp dan sutera yang dihasilakn disebut sutera tasar.
  • Anthereae yamamai Guerin (ulat sutera tasar Jepang). Ulat ini makan daun Alianthus sp.daun suteranya disebut sutera tasar.
  • Anthereae mylitta Drury (ulat sutera tasar India). Ulat ini makan daun ketapang (Terminalia sp.) meranti (Shorea sp) dan bungur (Lagerstomeia sp.). Sutera yang dihasilkan disebut sutera tasar.

Jenis ulat sutera yang paling banyak  dipelihara untuk memproduksi bahan sutera adalah Bombyk mori. Ulat sutera ini makan daun murbei ( Morus sp.). Ulat sutera Bombyx diduga nama serangga penghasil serat yang termasuk dalam familia Bombycidae. Kata mori berasal dari Morus (murbei) yang daunnya merupakan makanan ulat ini. Pada daun murbei terdapat suatu zat perangsang berupa glukosida dan penolakan memakan daun tumbuhan lain karena tidak adanya zat perangsang tersebut.

Sistematika Ulat sutera

Sistematika ulat sutera (Bombyx mori) adalah sebagai berikut.
Phylum : Arthropoda
Kelas : Insekta
Ordo : Lepidoptera
Famili : Mombycidae
Genus : Bombyx
Spesies : Bombyx mori L

Pemeliharaan Ulat sutera

Pemeliharaan ulat sutera tergantung pada keadaan alam dan kemampuan  manusia. Pemeliharaan ulat sutera perlu memiliki iklim dan tanah yang cocok bagi kehidupan ulat sutera. Keadaan alam yang cocok bagi kehidupan ulat sutera dapat menghasilkan kokon dakam jumlah banyak dan berkualitas tinggi. Sedangkan unsure kemampuan manusia yang dibutuhkan adalah kemauan dan semangat memelihara ulat sutera disertai denagn bekerja yang rajin. Jika syarat-syarat ini terpenuhi, maka dapat diterangkan tentang waktu dan besarnya usaha pemeliharaan ulat sutera.

Daerah yang paling cocok untuk pemeliharaan ulat sutera adalah yang mempunyai suhu 20°C-30°C. Ulat yang masih kecil memrlukan suhu agak tinggi. Di negra tropis, seperti Indonesia, pemeliharaan ulat sutera sepanjang tahun dapat dilakukan terus-menerus. Pemeliharaan ulat sutera perlu diatur agar hasil daun murbei dapat mencukupi kebutuhan jumlah ulat yang dipelihara sepanjang tahun. Tenaga manusia, peralatan, dan tempat pemeliharaan yang memadai perlu dipersiapkan jauh sebelumnya.


Kalau artikel ini bermanfaat bagi Anda, tolong share keteman anda melalui google plus [g+] dengan cara mengklik tombolnya di bagian bawah halaman ini. Terima kasih atas partisipasinya.

Tonie - 7:30 AM