;

Wednesday, August 7, 2013

Budidaya Ikan Bawal dan Ternak Bawal di Kolam Terpal

Wednesday, August 7, 2013

Budidaya ikan bawal dan ternak bawal di kolam terpal banyak dilakukan oleh para peternak ikan bawal air tawar di Indonesia, hal itu dikarenakan bahan dan tempat untuk budidaya sangat mudah dijangkau atau didapat tanpa harus membutuuhkan bahan dan lahan yang luas.


Budidaya, ikan, bawal, ternak, bawal, kolam, terpal
Ikan bawal air tawar sangat tinggi peminatnya, karena ikan bawal air tawar tidak jauh berbeda dengan ikan bawal air asin yang memiliki kualitas gizi dan tektur dagingnya yang cukup tebal. Maka tidak heran banyak peternak ikan yang melirik budidaya ikan bawal ini.

dibawah ini ada tahapan atau langkah-langkah singkat untuk memulai beternak bawal atau budidaya ikan bawal

PEMBUATAN KOLAM TERPAL

Kolam Terpal dengan Kerangka Bambu
Kolam terpal dengan kerangka bambu atau kayu adalah kolam terpal yang dibuat di atas permukaan tanah. Ukuran kolam disesuaikan dengan luas lahan yang tersedia. Umum¬nya kolam yang dibuat disesuaikan dengan ukuran terpal, misalnya ukuran kolam 2 x 3 x 1 m, 4 x 5 x 1 m, 6 x 4 x 1 m, atau 4 x 8 x 1 m.

Langkah-langkah pembuatan kolam terpal dengan kerangka bambu atau kayu sebagai berikut. 

  • Persiapkan la¬han untuk kolam terpal. Bersihkan dari benda-benda yang mengganggu, seperti rumput, pepohonan yang rimbun, dan ratakan tanah. 
  • Jika tanah tidak rata karena miring, maka tanah diratakan dengan menggunakan pelepah pisang atau sekam padi. Kedua bahan ini selain berfungsi meratakan ta-nah, juga dapat menstabilisasi suhu. Karena berfungsi sebagai stabilisator suhu, maka pelepah pisang atau sekam padi tetap digunakan, sekalipun tanahnya rata. Ketebalan pelepah pi-sang atau sekam padi sekitar 10 cm.
  • Siapkan tonggak atau tiang bambu atau kayu. Kemudian tancapkan tiang utama di setiap sudut kolam. Jika kolam terpal yang dibangun lebih dari satu petak, atur tata letaknya agar terlihat rapi. 
  • Untuk pembuatan kerangka, bambu atau kayu yang telah di¬pilih dipotong-potong sesuai ukuran kolam terpal yang akan dibuat. Untuk menyatukan kerangka ke tiang digunakan paku ukuran 7 cm atau 9 cm. Bisa juga mengikat dengan menggunakan tali atau kawat. 
  • Untuk membuat dinding bisa menggunakan bambu, kayu, atau papan. Bahan dibersih¬kan dan dipotong sesuai ukuran, kemudian dipakukan pada kerangka. Jika menggunakan bambu, maka pada saat me¬maku harus dilakukan secara hati-hati agar tidak pecah. 
  • Jika kerangka sudah terbentuk, misalnya kotak berukuran 6 x 4 x 1 m, maka perlu diatur kemiringan ke salah satu sisi un¬tuk memudahkan pengeringan kolam dan pemanenan ikan. 
  • Setelah kerangka kolam terpal selesai dibuat, selanjutnya memasang plastik terpal. Siapkan terpal sesuai ukuran ko-lam. Untuk kolam ukuran 6 x 4x 1 m digunakan terpal 8 x 6 m, sedangkan untuk kolam ukuran 4x 5x 1 m digunakan terpal ukuran 6 x 7 m. Terpal dipasang dengan baik hingga merapat ke tepi. Bagian sudut dapat dilipat. Agar plastik ter¬lihat rapi dan tidak mengerut, di bagian dinding kolam paling atas dijepit dengan bilah bambu. 
  • Di salah satu sudut yang telah diatur kemiringannya dipasang paralon sebagai saluran pembuangan air. Terpal disobek sedikit dengan cara menggun¬tingnya berbentuk bintang agar bisa dipasang bengkokan pipa (knee). 
  • Selanjutnya, kolam terpal dusi dengan air hingga mencapai kedalaman sesuai dengan kebutuhan pemelihara¬an ikan. Kolam terpal diperiksa untuk memastikan bahwa kolam telah kokoh dan tidak ada kebocoran pada terpal. Bila ada kebocoran, segera lakukan penambalan.

Kolam Terpal dengan Dinding Tanah

Kolam terpal dengan dinding tanah adalah kolam ter-pal di bawah permukaan tanah. Biasanya kolam terpal ini dibangun pada tanah yang porous. Kelebihan kolam terpal di bawah permukaan tanah adalah suhu air lebih stabil diban¬ding kolam terpal yang dibangun di atas permukaan tanah. Membangun kolam terpal dengan dinding tanah pun cukup mudah.


Urutan-urutan pembuatan kolam terpal dengan dinding tanah sebagai berikut. 
  • Persiapkan lahan untuk kolam ter-pal. Bersihkan dari benda-benda yang mengganggu, seperti rumput dan pepohonan yang rimbun. 
  • Jika ingin membuat kolam terpal 6 x 4 m, maka dilakukan penggalian tanah seda¬lam 50-60 cm. Rapikan galian dan bentuk pematang. 
  • Jika kolam sudah terbentuk, maka plastik terpal ukuran 8 x 6 m siap dipasang. Pasang terpal hingga merapat ke tepi. Bagian atas terpal dapat dijepit atau ditimbun dengan tanah agar tidak terkulai. 
  • Selanjutnya pasang pipa paralon atau pipa PVC dan siap diisi air. 
  • Untuk mencegah kolam dari banjir ketika terjadi hujan deras, dibuat tanggul penahan yang tinggi.

PEMELIHARAAN BAWAL AIR TAWAR

Kolam terpal dapat digunakan untuk pemeliharaan bawal air tawar, baik untuk memproduksi benih, ikan bias, ikan konsumsi maupun untuk ikan yang ditujukan pada kolam pemancingan Produksi benih yang dimaksud di sini adalah kegiatan pendederar untuk menghasilkan benih yang berukuran lebih besar. Sedangkar produksi ikan konsumsi disebut pembesaran, yakni kegiatan peme liharaan benih untuk menghasilkan ikan dengan tujuan konsumsi

Sebelum digunakan, kolam terpal harus disiapkan, terutama membentuk kestabilan air di kolam. Setelah kolam selesai dibuat, bilas terlebih dahulu untuk menghilangkan segala kotoran yang melekat pada terpal. Masukkan air ke dalam kolam hingga sesuai kebutuhan. 

Kemudian kolam ditutup dan dibiarkan selama 2-3 hari. Untuk menjaga sterilitas, kolam terpal dapat diberi per¬lakuan tradisional berupa memberi tumpukan daun pepaya atau daun ketepeng (Cassia alata) yang dibiarkan selama 5-7 hari. Daun pepaya berfungsi sebagai antiseptik. Selanjutnya benih bawal siap ditebar.

Benih yang digunakan untuk kegiatan pembesaran di kolam terpal, harus dipilih benih yang telah mencapai ukuran panjang 5-8 cm atau berat 20-30 g/ekor. Padat penebaran di kolam terpal antara 50-70 ekor/m2.

Selama pemeliharaan, bawal diberikan pakan berupa pelet sebanyak 3-4% bobot ikan per hari. Pakan yang diberikan me¬ngandung protein antara 25-27%. Pakan diberikan 3 kali sehari, yaitu pagi, siang, dan sore hari. Bawal juga dapat diberi pakan tam¬bahan berupa nasi sisa, roti kering sisa, dan lain-lain.

Agar membuat ikan kebal terhadap serangan penyakit dapat digunakan vitamin C dosis 250-500 mg/kg berat tubuh selama be¬berapa hari. Atau menggunakan probiotik sebagai imunostimulan, misalnya lipopolisakarida 10 mg/1 untuk mempertahankan stami¬na ikan. Penggunaan vitamin dan probiotik telah umum digunakan untuk budi daya ikan dan udang untuk meningkatkan kekebalan.

Selama kegiatan pemeliharaan ikan, kolam harus dijaga ke-bersihannya sehingga tidak menjadi sarang penyakit. Sisa pakan dan kotoran ikan di dasar kolam terpal secara rutin dibersihkan dengan melakukan penyiponan tiap 15-20 hari sekali. Dengan melakukan penyiponan secara rutin, dasar kolam tidak mengan¬dung bahan-bahan berbahaya bagi ikan budi daya.

Untuk menghasilkan bawal ukuran 300-400 g/ekor, dibut kan waktu pemeliharaan 3-4 bulan, dengan menebar benih an 5-8 cm. Sedangkan untuk menghasilkan ikan ukuran 900- g/ekor dibutuhkan waktu pemeliharaan 4-5 bulan.

Anda dapat memebaca artikel tentang belut dan gabus (klik untuk membacanya) :
Cara Budidaya Belut
Cara Budidaya Ikan Gabus

Kalau artikel ini bermanfaat bagi Anda, tolong share keteman anda melalui google plus [g+] dengan cara mengklik tombolnya di bagian bawah halaman ini. Trima kasih atas partisipasinya.

(Sumber buku : BUDIDAYA BAWAL AIR TAWAR, Penulis ; M. Ghufran H. Kordi K.)

Tonie - 7:44 AM

Cara Ternak Ayam atau Memelihara Ayam Bersama Ikan

Cara ternak ayam atau memelihara ayam bersama ikan sebetulnya sudah banyak yang mencoba memperaktekkannya  oleh para peternak di Indonesia, namun banyak kendala yang menghambat keberhasilan dari sistem beternak seperti itu. 


cara, ternak, ayam, memelihara ayam, bersama. ikanUntuk menangani kendala yang bersifat teknis maka tidak ada salahnya apabila kita melihat catatan singkat dibawah ini, walaupun catatan ini tidak lengkap sepenuhnya, namun catatan ini bisa kita ambil untuk bahan referensi kita sebelun memulai ternak ayam atau memelihara ayam bersama ikan ini. 


SISTEM PEMELIHARAAN AYAM

Kandang Ayam
Kandapg ayam biasanya dibangun seluruhnya di atas salah satu pematang kolam atau menjulur sebagian di atas permukaan air kolam. Bangunan kandang ayam memung¬kinkan sisa makanan dan kotoran ayam jatuh langsung ke kolam.

Bentuk kandang yang digunakan yaitu kandang sistem baterai. Dibuat memanjang dan diletakkan pada bagian sudut kolam dan pada bagian kolam yang airnya tidak ter¬lampau dalam.
Pondasi (dasar) kandang harus kuat, sebab berada di dalam air. Umumnya pondasi kandang dibuat dari tembok, seperti membuat pondasi rumah panggung.

Jarak antara dasar kandang ayam dengan permukaan air kolam berkisar antara 50-100 cm.
Kandang baterai, baik kerangka maupun sangkarnya bisa dibuat dari bambu, kayu, atau bahan lain. Untuk mem¬buat sangkar bisa digunakan bahan dari kawat. Ukuran kan¬dang baterai yang umum adalah 40 x 20 x 40 cm. Bagi ayam-ayam petelur lebar kandang bervariasi antara 20-30 cm.

Lebar     20 cm     :     dapat diisi 1 ekor ayam petelur putih
             20,5 cm   :     dapat diisi 1 ekor petelur medium (pe¬telur kulit coklat)
             25 cm      :     dapat diisi 2 ekor petelur putih
             30 cm      :     dapat diisi 2 ekor petelur medium.

Peralatan Kandang

Kandang dilengkapi dengan,

a.    Tempat makan, bisa dibuat dari plastik, kayu, bambu, logam. Tempat makanan yang baik harus memenuhi per¬syaratan :
-    mudah dibersihkan,
-    mudah diisi,
-    makanan tidak mudah tumpah, dan
-    ayam mudah makan dari tempat makanan tersebut.

b.     Tempat minum
Tempat minum yang baik haruslah :
-    mudah dibersihkan,
-    mudah diisi,
-    ayam mudah minum dan
-    air tidak mudah tumpah

c.     Lampu penerangan
    Dibutuhkan untuk :
a.    ayam petelur, pada waktu cuaca gelap dan malam hari
b.    ayam pedaging, pada cuaca gelap dan sepanjang malam.

Teknik Pemeliharaan Ayam

Ayam yang dipelihara
Ayam yang dipelihara yaitu ayam petelur yang sudah siap berproduksi (layer) dan ayam pedaging. Umumnya ayam petelur yang berumur 20-22 minggu (4-5 bulan). Pada umur 4,5 bulan kadangkala sudah ada yang mulai ber¬telur, tetapi umumnya yang terlalu cepat berproduksi telur¬nya akan kecil-kecil dan masa produksinya pendek, sebab pada masa pertumbuhan tidak dapat tumbuh dengan baik (terutama perkembangan alat-alat produksinya). 

Dalam hal ini "vitamin pertumbuhan ayam dara" memegang peranan dalam masa layer. Hanya ayam-ayam yang dalam masa bibit (starter) dan remaja/dara (grower) terpelihara dengan baik dan terpenuhi kebutuhan-kebutuhannya akan menjadi ayam petelur yang sanggup berproduksi baik pula (jumlah dan masa produksi). Bila sampai 7 bulan ayam belum bertelur (walaupun terlihat tanpa cacat), sebaiknya ayam tersebut diafkir, kemungkinan ada kelainan dalam alat reproduksi¬nya.

Pemeliharaan ayam pedaging pada dasarnya tidak ber¬beda dengan pemeliharaan ayam petelur. Untuk memper¬mudah pemeliharaan ayam pedaging secara baik perlu di¬lakukan program pemeliharaan sesuai dengan fase hidup mereka.

Fase hidup ayam pedaging (broiler) dikelompokkan menjadi 2 fase, yaitu :
1.    fase starter, umur 0-4 minggu
2.    fase finisher, umur 5 minggu sampai dengan dipasarkan.
Beberapa kegagalan pada masa pemeliharaan fase starter adalah akibat : kedinginan, kesalahan dalam pemberian ma¬kanan, kapasitas yang berkelebihan. Kesemuanya ini akan menimbulkan efek negatif, seperti kepekaan terhadap gangguan penyakit yang sulit untuk diatasi, kelambatan dalam pertumbuhan dan lain sebagainya.   

Dalam sistem pemeliharaan ikan bersama ayam, untuk setiap 0,1 hektar (70 tumbak, 1000 m2) luas kolam dapat ditempatkan sebanyak 200 ekor ayam petelur, dengan kan-j dang sistem baterai (petelur 1 ekor per 5 m2 luas kolam) dan ayam pedaging 1 ekor per 1 m2 luas kolam. Bagi ayam pedaging, anak ayam sudah mulai dipelihara di atas kolam setelah dipelihara di kandang bawah (kandang khusus untuk memelihara anak ayam) selama 2 minggu lamanya. Lamanya pemeliharaan bagi ayam pedaging di atas kolam antara 20-25 hari.

Tinggi rendahnya kualitas ransum, cukup tidaknya ransum yang diberikan pada ayam harus di¬perhitungkan secara cermat, sehingga biaya yang dikeluar¬kan cukup efisien, ekonomis. Bibit ayam yang bagus, per¬kandangan yang baik, dan hal-hal lain yang dilaksanakan secara baik pula, akan hancur karena pemakaian dan pem¬berian ransum yang tidak tepat. Kejelekan dan kekurangan ransum dapat pula berakibat timbulnya penyakit pada ayam (defisiensi makanan/vitamin, kanibal, dan seterusnya).

Ransum yang diberikan pada ayam akan berfungsi 
a.    memenuhi kebutuhan hidup, antara lain pertumbuhan dan pemeliharaan sel-sel, menggantikan bagian yang rusak (bulu, kulit)

b.    untuk keperluan memproduksi telur.
Ransum yang siap diberikan pada ayam disebut ransum jadi yang dalam pemakaiannya terbagi :
Ransum starter      :    untuk anak ayam umur 1 hari s/d 2 bulan
Ransum grower     :    untuk ayam dara umur 2 bulan s/d 4 bulan
Ransum layer        :    untuk petelur dewasa 4 bulan ke atas.

Pemberian makanan bagi anak ayam, selama 3 hari yang pertama, makanan yang diberikan cukup ditebarkan di atas koran, di dekat sumber pemanas. Setelah 3 hari pertama berlangsung, barulah makanan tadi ditaruh di dalam nam¬pan kecil yang berbentuk segi empat atau bulat. Tentu saja besar kecilnya nampan harus selalu disesuaikan dengan pertumbuhan atau umur ayam yang bersangkutan.

Untuk menghindarkan makanan menjadi kotor atau tumpah, maka pengisian penampan tadi diusahakan sedikit demi sedikit, atau paling banyak separo dari permukaan pe¬nampan yang dipakai.

 Sesudah anak ayam mencapai umur 10 hari-2 minggu, tempat makanan yang berupa penampan harus diganti dengan tempat makan berbentuk tabung bulat atau memanjang, ataupun tempat makan gantung (otomat). Letak ketinggian tempat makan diusahakan setinggi dada atau punggung. Ransum makanan yang diberikan pada anak ayam dengan kadar protein 23% dan metabolisme energi (ME) = 2800-3000 kkal.

SISTEM PEMELIHARAAN IKAN

Kolam Ikan
Untuk budidaya ikan air tawar, kolam mempunyai peranan yang sangat penting. Karena selain sebagai media hidup ikan, kolam harus pula berfungsi sebagai sumber makanan alami ikan. Untuk mendapatkan kolam yang su¬bur, bukan saja dasar kolam harus sedikit berlumpur oleh lapisan humus namun juga air yang masuk ke dalam kolam harus mengandung cukup bahan organik dan tidak beracun.

Air dan Tanah
Jenis tanah yang paling baik untuk kolam adalah tanah liat atau lempung sedikit berpasir. Tanah terapan atau be¬ranjangan masih bisa juga digunakan. Sedang tanah yang kandungan pasirnya sangat tinggi tidak bisa digunakan untuk kolam.

Air merupakan faktor utama dalam usaha budidaya ikan. Tanpa adanya air yang cukup dengan kualitas yang baik, maka usaha budidaya ikan akan mengalami berbagai hambatan. Oleh karena itu hal-hal yang mutlak diperhatikan dalam kaitannya dengan masalah kondisi air adalah :

Sumber Air
Air untuk kolam dapat bersumber dari sungai, air irigasi maupun dari mata air. Sungai sebagai sumber air untuk budidaya ikan adalah baik sekali sebab air sungai biasanya banyak mengandung unsur-unsur hara, yang berguna bagi penumbuhan makanan alami ikan. Lebih-lebih apabila su¬ngainya panjang sehingga unsur-unsur haranya cukup karena biasanya melalui pemukiman rumah penduduk.

Namun perlu diingat biasanya air sungai banyak mengan¬dung waled, sehingga memerlukan bak pengendapan dan bak filter sebelum dipergunakan di kolam. Hal ini untuk mencegah pendangkalan kolam yang terlalu. singkat.

Air tanah yang baik untuk sumber air budidaya ikan biasanya yang telah keluar di permukaan tanah. Dalam arti kata antara sumber air tanah dengan letak unit perkolaman terpisah, jadi harus dialirkan melalui saluran terlebih dahulu. Ini untuk memperbaiki kualitas air tanah tersebut karena biasanya air yang baru keluar dari tanah miskin unsur hara dan pH-nya rendah.

Kualitas Air
Dengan memperhatikan makhluk hidup yang ada di per¬airan tersebut secara tidak langsung kita dapat menilai ke¬suburan air. Makin beraneka ragam makhluk hidup yang kita temukan, maka makin suburlah perairan itu. Air yang akan kita pakai untuk kolam sudah tentu harus yang baik mutunya, walaupun tidak selalu harus subur. Kesuburan¬nya dapat kita tingkatkan kelak, dengan pemupukan ko¬lam dan pengelolaan yang betul. Air yang baik mutunya harus bersuhu sedang, yang antara siang dan malam tidak begitu besar perbedaannya (tidak lebih dari 5°C; misalnya antara 25°C dan 30°C.

Selain itu, kekeruhan air juga merupakan faktor yang turut menentukan baik buruknya mutu. Sebaiknya air itu jangan terlampau jernih (karena air demikian biasanya ku¬rang subur) melainkan yang agak keruh. Tetapi keruhnya tidak boleh karena lumpur yang mati, melainkan harus di¬sebabkan oleh kandungan sejumlah kapur dan jasad renik plankton yang hidup.

Debit air yang baik tidak kurang dari 10-15 1/dt/Ha. Dalam kenyataannya apabila sumber airnya dari sungai, debitnya tidak tetap tergantung pada musim. Apabila debit air pada musim hujan sangat besar, maka harus dibuatkan saluran pengendali banjir sehingga debit air yang besar tidak masuk ke dalam kolam. Apabila debit air kurang dari Standar tersebut di atas, maka harus diusahakan pengaturan air, yang seefisien mungkin.

Bentuk dan Konstruksi Kolam (longyam)

Kolam yang digunakan umumnya sama dengan kolam ikan sistem biasa. Bentuknya beraneka ragam, disesuaikan dengan bentuk pemilikan lahan. Pada umumnya kolam ikan berbentuk empat persegi panjang dengan arah memanjang dari pintu pemasukan ke pintu pembuangan air.

Kolam berbentuk empat persegi panjang ini memang mempunyai kelebihan dibandingkan dengan kolam yang berbentuk bujur sangkar. Kelebihannya terdapat dalam sir¬kulasi air dan penyediaan makanan alami ikan, karena ko¬lam berbentuk persegi panjang mempunyai sisi/pinggiran yang lebih panjang dibandingkan kolam berbentuk bujur sangkar. Makanan alami ikan (moina, daphnia) lebih banyak tumbuh di pinggiran kolam yang dangkal dibandingkan di tengah kolam yang lebih dalam.

Teknik Pemeliharaan Ikan

Persiapan Kolam
Sebelum penebaran ikan, seperti biasanya kolam di¬keringkan dan dijemur untuk mencegah adanya hama dan penyakit. Hal ini dilakukan sambil mempersiapkan kandang ayam. Bila masih terdapat genangan-genangan air yang sulit dikeringkan, perlu diberi kapur secukupnya. Juga untuk memperbaiki keasaman tanah, dilakukan pengapuran de¬ngan dosis 5 kg per 100 rri2 . 

Pematang kolam perlu diper¬baiki sehingga tidak terdapat tempat-tempat yang bocor dan lumpur di dasar kolam sebagian diangkat ke atas pema¬tang. Sebelum kolam siap untuk diisi air, ayam hendaknya sudah mulai dipelihara. Sehingga sebagian kotoran ayam yang jatuh ke kolam merupakan pupuk organik bagi kolam. Kolam .selanjutnya ditabur pupuk urea dengan dosis, 5 kg per 100 .m2 disesuaikan dengan kebutuhan. Sekitar satu minggu kemudian setelah kolam diisi air, ikan mulai ditebar.

Jenis Ikan yang Dipelihara
Berbagai jenis ikan dapat dipelihara dengan baik melalui sistem longyam ini. Baik secara terpisah ataupun secara ber¬sama-sama. Pada umumnya para petani yang berusaha tani dengan sistem longyam, selalu berorientasi pasar. Artinya selalu memelihara jenis ikan yang mempunyai pasaran yang baik (mempunyai harga yang mahal). Jenis-jenis ikan yang dipelihara dengan sistem longyam ini antara lain :
-    ikan mas
-    ikan taw es
-    ikan nila
-    ikan tambakan
-    ikan mujair
-    ikan gurami dan udang galah.

Umumnya ikan mas tidak dibudidayakan secara mono kultur, tetapi secara polikultur, yaitu dicampur dengan ikan lain seperti ikan tawes, ikan mujahir, ikan nila, ikan nilern dan lain sebagainya. Sebagai contoh, misalnya polikultur ikan mas dan ikan nila. Kegiatan budidaya terpadu ini me¬rupakan kegiatan pendederan ikan mas untuk menghasilkan benih bagi sistem budidaya ikan kolam air deras dan dapat pula sebagai kegiatan pembesaran ikan nila untuk menghasil¬kan ikan konsumsi.

Perbandingan jumlah ikan-ikan tersebut di dalam kolam beraneka ragam. Pada umumnya, dalam sistem longyam ini ; ikan-ikan dipelihara dengan perincian, sebagai berikut :
  • ikan mas    36%
  • ikan nilem    38%
  • ikan tambakan    16%
  • ikan mujair + tawes    10%

Makanan Ikan
Makanan ikan yang dipelihara adalah makanan alami yang tumbuh di dalam kolam. Kotoran ayam dan makanan¬nya yang tercecer dari wadahnya dapat merupakan pupuk organik dan dapat pula sebagai makanan ikan. Dengan ada¬nya kotoran ayam sebagai pupuk organik diharapkan ma¬: kanan alami yang ada di dalam kolam dapat tumbuh dengan subur.

Makanan tambahan berupa pelet, diberikan sewaktu¬waktu apabila kandang ayam dikosongkan setelah ayamnya dipanen (dijual). Bila yang dipelihara adalah ayam petelur, bukan ayam pedaging, sebagai makanan ikan cukup dari kotoran dan makanan ayam yang terbuang.

Makanan tambahan, umumnya berbentuk tepung yang agak kasar. Dedak halus (bekatul) cocok untuk makanan tambahan. Dedak, selain dapat diberikan secara langsung, juga digunakan sebagai baban campuran untuk membuat ,makanan ikan.

Artikel lain yang dapat anda baca di blog ini (klik untuk membacanya) :
Cara Beternak Ayam Petelur
Cara Budidaya Itik

Kalau artikel ini bermanfaat bagi Anda, tolong share keteman anda melalui google plus [g+] dengan cara mengklik tombolnya di bagian bawah halaman ini. Trima kasih atas partisipasinya.

(Sumber Buku  : Memelihara Ikan Bersama Ayam Penulis : Ir. KUSNO S.)

Tonie - 2:07 AM

Cara Beternak ayam Petelur di kandang Baterai

Di catatan blog kali ini akan membahas cara beternak ayam petelur di kandang baterai, informasi singkat ini mungkin bisa membantu bagi anda yang sedang melakukan kegiatan beternak ayam, banyak para peternak ayam yang sengaja mengambil pilihan untuk memilih salah satu jenis bisnis ternaknya, ayam petelur atau ayam pedaging atau potong.


cara, beternak,  ayam, petelur, potongkhusus  bagi peternak ayam petelur mereka hanya memproduksi telurnya dibandingkan ayamnya sendiri, karena pola atau aturan yang di  terapkan akan sedikit berbeda dengan peternak ayam pedaging, adapun langkah-langkah untuk beternak ayam petelur seperti di bawah ini:

Ciri-ciri fisik bagi ayam bibit unggul adalah sebagai berikut.

Bibit Pejantan.
  • Ayam harus sehat dan Iincah.
  • Tubuh tegap,gagah,dan tinggi besar.
  • Bulu utuh bersih dan mengkilat.
  • Mata bulat dan jernih.
  • Jengger dan pial berwarna kemerah-merahan.
  • Kaki kuat dan besar.
  • Suara kokoknya keras dan panjang.
  • Umur antara 1 sampai 3 tahun.

Induk Betina
  • Ayam harus sehat dan Iincah.
  • Tubuh tegap,gagah dan besar.
  • Bulu bersih,utuh dan mengkilat.
  • Jengger dan pial berwarna kemerah-merahan dan jengger roboh ke samping.
  • Kaki kuat dan tidak terlalu tinggi (tinggi sedang).
  • Muka segar,jernih dan halus.
  • Tulang pinggul besar,lebar dan tampak basah (berminyak)
  • Jarak antar tulang pinggul minimal tiga sampai empat jari.
  • Senantiasa berkotek dan aktif mencari makan.
  • Umur antara 6 sampai 7 bulan (sudah slap betelur).

Perbandingan Jumlah Pejantan dan Induk.

Untuk mengatasi kejenuhan dari setiap pejantan di dalam mengawini induk yang jumlahnya mungkin terlalu banyak, maka sebaiknya ditempuh cara-cara atau ketentuan-ketentuan sebagai berikut.

Satu pejantan paling banyak mengawini 10 induk. Paling ideal adalah satu penjantan mengawini 8 induk. Ayam-ayam betina harus dijaga agar tetap berkumpul satu kandang dengan pejantan setiap dua atau tiga hari sekali. Begitu salah satu induk sudah dikawini,maka segera diambil dan masukkan ke dalam kandang petaknya.

Karena tujuan beternak ayam adalah untuk diambil hasil telurnya,maka perlu regenerasi melalui penetasan alamiah atau dengan mesin penetas.Jika upaya tersebut tidak memungkinkan,maka dengan jalan pintas membeli calon indukan. Untuk itu yang perlu diperhatikan adalah dengan mengambil ayam.

Ayam yang produksi telurnya banyak dan berkualitas, mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.
  1. Jengger dan pial           :    lebar,kemerah merahan, hangat, tampak bercahaya, basah berminyak, seperti terdapat lapisan lilin dan roboh ke samping.
  2. Kepala atau muka            :     lebar, bersih dan halus seperti berminyak.
  3. Mata                                :     bulat, jernih dan cerah bercahaya.
  4. Dubur                             :     lebar, basah, tampak elastis, berwarna merah mudah, atau agak keputih-putihan.
  5. Perut dan dada                 :     lebar, halus berisi,elastis dan lunak.
  6. Kulit                                 :    halus, tampak berminyak, dan longgar
  7. Bulu                                 :    padat,fengkap atau utuh,tidak lusuh atau kusam, dan meng¬kilat.
  8. Kaki                         :    kuning keputih-putihan atau putih kekuning-kuningan, ketinggian sedang (tidak terlalu pendek dan tidak terlalu tinggi).
  9. Sifat-sifat yang tampak:
  • tingkah Iakunya lincah,ringan,suka berkot dan aktif mencari makan,
  • lekas dewasa, badan tampak berisi dan cer bertelur,
  • masa bertelurnya lama (dalam 1 bulan ante 25 sampai 28 butir),
  • bentuk badan agak panjang,punggung hit tubuh penuh berisi, dada lebar dan dalam
  • keadaan perut lunak,halus dan penuh,
  • kaki dn paruh berewarna kuning keput pituhan atau putih kekuning-kuningan d terkadang terdapat goresan hitam, dan
  • jika hendak menetaskan sendiri, usaha diarr telur yang keluar antara hari ke-21 sampai 28 setiap satu periode bertelur.

Syarat-syarat kandang yang balk dan sehat adalah sebagai berikut.
1.    Tempat atau lahan pembangunan kandang.
2.    Bentuk bangunan kandang.
3.    Konstruksi kandang.
4.    Alat-alat dalam kandang.
5.    Peralatan pembuatan kandang.
6.    Bahan baku pembuatan kandang.
7.    Bentuk-bentuk kandang model baterai.

1)    Tempat atau Lahan Bangunan Kandang.
Untuk mendirikan atau membangun kandang ayam haruslah dipilih suatu tempat yang paling tinggi diantara kompleks atau lingkungan itu. Hal ini dimaksudkan agar tempat atau bangunan kandang tersebut selalu dalam keadaan kering dan tidak tergenang air jika musim hujan. Jika harus terkena genangan air ,maka diharapkan airnya cepat surut dan mengering.

Tempat bangunan harus jauh dari gudang makanan atau lumbung penyimpan hasil pertanian, karena tempat semacam itu sering didatangi tikus atau hama yang lain bangunan kandang juga harus jauh dari bangunan yang mengganggu ketenangan ayam.

Usahakan disekitar bangunan kandang tidak terdapat pohon besar dan terlalu rindang, selai ranting-rantingnya menghalangi pencahayaan sinar matahari, kadang-kadang pohon-pohon tersebut ditempati ular atau hama pengganggu yang lain,sehingga dapat membuat ayam tidak nyaman.

Lahan yang hendak didirikan bangunan kandang sebaiknya agak luas. Hal ini dimaksudkan jika sewaktu¬waktu, hendak memperbanyak jumlah ternak,maka kandang dapat diperluas. Kemudian disekitar bangunan kandang dibuat pagar keliling. Selain Untuk pengamanan juga akan tampak asri dan indah.

2)     Bentuk Bangunan Kandang.
Kandang ayam sebaiknya dibuat dalam bentuk bangunan panggung dengan alas terbuat dari bilah¬bilah bambu atau kayu berbentuk kisi-kisi dengan
Teknik Pembuatan Kandang Bentuk Batumi jarak antara 1 sampai 2 cm. Supaya kotoran ayam bisa jatuh ke Iantai.

Kandang ayam sebaiknya sebagian bangunannya terbuka supaya udara dalam kandang tidak pengap, tidak lembab dan pertukaran udara berjalan lancar. Selain itu proses penguapan air dalam kandang dapat berlangsung lancar.

Bangunan kandang sebaiknya menghadap ke arah timur,supaya sinar matahari pagar dapat dengan leluasa masuk ke dalam kandang dan menyorotkan sinarnya ke ayam. Hal ini untuk menjaga kebugaran ayam dan membantu ayam memproduksi vitamin D dalam tubuhnya pada musim kemarau yang panas dan kering,apalagi dengan tiupan angin kering yang kencang, atau pada musim penghujan yang lebat dengan angin basah yang menerjang menerobos segala bangunan dan sela-sela pohon,

 maka sebaiknya sekeliling kandang atau dinding kandang diberi tiral. Penutup yan? terbuat dari wrung plastik,karung g atau terpal !Intl* menjaga 1,nyamanan ayam pa musim-musim tersebut.
Atap    sebaikr1:- terbuat dari ciente tanah atau    tes,agar pery:naran cahaya math tidak menembus mengenai ayam-ayam. Sehingga ti mengangganggu kenyamanan ayam.

3.     Konstruksi Bangunan Kandang.
Konstruksi kandang yang ideal,serasi dan bernilai sehat adalah harus memiliki hal-hal sebagai berikut.
  • Alat, balk yang ada didalam kandang maupun yang ada diluardapat dengan mudah dibersih¬kan.Cepat dikerjakan dan tidak mengganggu tata laksana.
  • Ventilasi, harus cukup. Adanya peredaran udara segar dari luar ke dalam kandang akan menghindar udara lembab yang di sebabkan oleh penguapan air yang berasal dari kotoran dan pernapasan ayam serta mengeluarkan gas yang timbul di dalam kandang.
  • Dinding bagian harus terbuka, dibuat dari kawat kotak atau bilah-bilah bambu. Pada sisi depan bagian bawah harus dibuatkan kesi-kesi dari kayu atau bilah-bilah bambu yang tingginya 30 cm lebar 5 cm supaya kepala atau leher ayam dapat
  • keluar atau mematuk makanan yang ada di luar.
  • Cahaya matahari dapat masuk ke dalam kandang sebanyak mungkin pada waktu pagi hari maka kandang harus menghadap ke timur.
  • Ukuran luar kandang memadai dan mencukupi kebutuhan gerak ayam.
  • Alas kandang terbuat dari tanah atau semen yang tertutup dengan campuran pasir kering sekam dan kapur. Dengan perbandingan 3:2:1 dan ketebalan sekitar 20 cm.

Alat-Alat Dalam Kandang.
Peralatan kandang yang diperlukan diantaranya adalah sebagai berikut.

1.     Tempat makanan ayam.
  • Ternpat makanan ayam dapat membeli dari toko alat peternakan.
  • Membuat sendiri dengan bahan dari kayu,plastik,bambu atau logam.
  • Tempat-tempat tersebut dalam kondisi baik dan harus memenuhi syarat mudah dibersihkan, mudah diisi ulang makanan dijamin tidak mudah tumpah ayam dapat dengan mudah mengambil makanan dari tempat itu.
  • Tempat makanan ditaruh di luar supaya tidak mengotori Iantai dan mudah dirawat.
  • Semua pelayanan dapat dilakukan dari luar kandang dengan baik dan tidak mengganggu kenyamanan ayam.

2.    Tempat Minum Ayam.
Tempat minum ayam bisa Iangsung memakai alat yang sudah jadi dengan membeli di toko-toko alat peternakan,atau membuat sendiri dari bahan-bahan seperti: tempurung kelapa,kaleng plastik,Iogam kaleng atau bambu. Semua alat tersebut harus memenuhi syarat sehat dan mudah dibersihkan.

•    mudah diisi ulang,
•    ayam mudah mengambil minum,
•    dijamin air tidak akan tumpah,
•    semua pelayanan dapat dilakukan dari luar kandang,
•    dan dan tidak mengganggu kenyanianan ayam.

3)     Sarang Tempat Bertelur.
Sarang tempat bertelur sebaiknya terbuat dari kotak kayu yang di alasnya terbuat dari bantalan bahan campuran sekam,pasir dan kapur. Sarang dibuat menjadi satu dengan lantai kandang tempat ayam berpijak dengan posisi miring keluar. Hal ini dmaksudkan agar jika ayam bertelur telur langsung menggelinding keluar dan memudahkan dalam pengambilan.

4)    Lampu Penerang.
Lampu penerang sangat dibutuhkan, selain untuk dalam keseharian di waktu malam juga jika terjadi cuaca gelap atau mendung. Fungsi yang tidak kalah penting adalah untuk menghalau hewan pemangsa di malam hari.

5)    Tempat Bertengger.
Tempat bertengger dapat dibuat dari sebatang tongkat kayu atau bambu bulat yang bergaris tengah sekitar 5 cm, atau papan selebar 5 cm,dengan ketebalan 5 cm dan jarak satu dengan yang lain antara 30 sampai 35 cm, dan tingginya sekitar 80 cm.

6)    Alat-alat Pembersih Kandang.
Alat-alat pembersih kandang seperti sapu, sikat, sekop, alat pembuang kotoran serta kain lap untuk membersihkan tempat minum.

7)     Selimut Kandang.
Selimut kandang diperlukan untuk menjaga supaya kondisi kandang tetap hangat dan ayam dapat tidur dan bertelur dengan nyaman. Selimut kandang ini berfungsi untuk menangkal udara panas maupun udara dingin. Juga untuk menahan sengatan sinar matahari pada waktu slang maupun untuk menahan dari cipratan air hujan di musim penghujan.

Selimut dapat dibuat dari lembaran sak plastik, lembaran plastik, karung goni atau terpal. Selimut diusahakan dapat menutup 2/3 bagian atas dari bawah ke atas dan menyeluruh melingkari kandang.

Teknik Kebersihan Kandang.

Teknik kebersihan kandang ini lebih dititikberatkan kepada upaya menjaga kandang yang senantiasa bersih dari kotoran ayam. Untuk itu seyogyanya pembersihan kotoran ayam dari dalam kandang ini dilakukan sehari paling tidak 2 kali, yaitu pada waktu pagi dan sore.Kotoran-kotoran itu ditampung dalam lubangan yang sudah dipersiapkan dan dicampur dengan sampah-sampah daun dan sekali waktu disiram dengan air, terutama pada musim kemarau.

Selain pembersihan kandang dari unsur kotoran, maka setiap seminggu sekali kandang hendaknya disemprot dengan larutan antiseptik atau air kapur yang jernih. Hal ini untuk mengantisipasi berkembang¬nya hama-hama kutu, dan protozoa, dan nyamuk¬nyamuk. Dengan teknik ini ayam juga bisa bergerak leluasa melepas kejenuhan di petak-petak, perlu dikeluarkan dan ditampung di kandang pelepasan yang dibuat khusus untuk melepas ayam-ayam agar tidak berlarian meninggalkan lingkungan kandang.

Teknik Pemberian Makan.

Agar ayam cepat pertumbuhnnya dan cepat bertelur serta produktifitasnya tinggi, maka teknik pemberian makan sangat perlu diperhatikan. Selain keberlangsungan dan keajegan pemberian menu makanan, juga perlu diperhatikan komposisi makanan sesuai dengan kandungan gizi, vitamin dan mineral yang dibutuhkan bagi pertumbuhan dan perkembangan ayam.

Teknik Pencegahan dan Pemberantasan Hama dan Penyakit.

Teknik pencegahan dan pemberantasan hama dan penyakit, dititik beratkan kepada teknik vaksinasi, pemberian obat-obatan, mengenal jenis-jenis dan nama obat-obatan serta pemberantasan hama dan penyakit secara sederhana dan tradisional. Pembahasan mengenai teknik pencegahan dan pemberantasan hama dan penyakit ini jugs akan dibahas dalam bab tersendiri.

Zat Energi.

Makanan yang mengandung energi adalah makanan yang banyak mengandung karbohidrat dan lemak. Makanan jenis ini yang menimbulkan tenaga yang dibutuhkan oleh ayam.
Macam-macam makanan- yang banyak me¬ngandung karbohidrat adalah: jagung, beras, gandrung (canto!) ketela pohon, kacang tanah, kacang panjang, kacang hijau, kedelai dan lain-lain .Makanan ini sekaligus mengandung protein dan lemak. Makanan yang mengandung lemak adalah kacang tanah, kedelai, dedak halus (pabrik) bungkil, tepung ikan, dan tepung daging.

Makanan pembarigtfriadatah makanan yang banyak mengandung zat putih telur (protein) dan mineral. Makanan pembangun dibutuhkan ayam untuk pertumbuhan atau perkembangan tubuh, memperbesar tulang, urat-urat, daging dan kulit serta untuk berproduksi. Mengganti urat urat daging yang rusak atau jaringanjaringan tubuh yang lain. protein sangat diperlukan oleh setiap sel yang hidup , apabila pemberian protein dihentikan, sel yang bersangkutan akan berhenti pertumbuhannya. Akhirnya ayam berhenti berproduksi atau tak bertelur. Ada dua jenis protein yaitu sebagai berikut.
  • Protein hewani yaitu protein yang berasal dari hewan. Protein ini lebih bermutu karena susunannya lebih Iengkap dari pada yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Yang merupakan sumber protein hewani adalah tepung daging tepung darah tepung ikan (teri, udang) susu, daging, bekicot, siput, kerang, dan racing. lni merupakan protein hewani yang murah harganya, dan kulitnya dapat digiling, sebagai grit.
  • Protein yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.
  • Protein yang berasal dari tumbuh-tumbuhan disebut protein nabati. Tumbuh-tumbuhan yang mengandung protein nabati misalnya: kacang tanah, buncis, kacang hijau, dan kacang panjang.

Ayam petelur lebilfbanyak membutuhkan protein hewani dari pada protein nabati.Karena susunan pro¬tein hewani lebih sempurna. Walaupun demikian kebutuhan protein setiap ayam tidaklah sama, tergantung dari umur ayam serta tujuan beternaknya.

Pembuatan Ransum Ayam.

Ransum ayam terdiri dari racikan berbagai bahan I makanan yang masing-masing terdapat unsur karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air. i Jika setiap peternak mengharapkan hasil yang maksimal dengan mutu yang bagus, maka didalam pembuatan ransum dan pemberian makan ayam harus , benar-benar sesauai dengan aturan.


(Sumber Buku : Ternak Ayam Petelurdi Kandang Baterai, Penulis : Suparman Pedro)

DI CATATAN BERIKUTNYA KITA AKAN MEMBAHAS Cara Ternak Lele

Kalau artikel ini bermanfaat bagi Anda, tolong share keteman anda melalui google plus [g+] dengan cara mengklik tombolnya di bagian bawah halaman ini. Trima kasih atas partisipasinya.

Tonie - 1:30 AM

Budidaya Belut dan Cara Beternaknya Dengan Lahan Seadanya

Budidaya Belut ternyata tidak harus selalu di tempat yang luas, di daerah Jawa Barat banyak peternak yang melakukan budidaya belut  di sekitar pekarangan rumahnya dan hasil budidayanya ternyata cukup baik. 


Cara, budidaya, Belut, Beternak, TeknikHal ini membuktikan bahwa budidaya belut atau beternak belut ditak harus selalu di tempat yang luas, tentunya dibalik itu semua kita harus terlebih dahulu mengetahui tahapan-tahapan atau langkah-langkah yang baik dan benar untuk melakukan budidaya belut  di tempat yang terbatas ini.

Di blog ini kita akan mengetahui langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan untuk melakukan budidaya belut supaya mendapat hasil yang maksimal, walauppun isi blog ini tidak detail sepenuhnya namun point-point di bawah ini sangat menentukan hasil budidaya yang kita lakukan.

Lokasi dan Kondisi Lingkungan

Pembibitan belut dapat dilakukan di dataran dengan ketinggian 250¬700 mdpl. Namun, idealnya pembibitan belut dilakukan di lokasi dengan ketinggian 400 mdpl. Pasalnya, suhu sangat memengaruhi pertumbuh¬an belut. Pengaruh suhu yang terlalu dingin, berkisar 16-22°C, dapatmenghambat pertumbuhan belut. Suhu tersebut juga kurang cocok untuk pemijahan belut. Pertumbuhan belut pada suhu dingin menjadi lebih lambat dibandingkan dengan belut yang dibudidayakan pada suhu agak panas

Luas Lahan yang Digunakan

Luas lahan pembibitan yang digunakan bisa berukuran berapa saja, sesuai dengan kepemilikan atau luas lahan yang dimiliki. Bahkan, pembibitan belut juga bisa dilakukan di lahan berukuran 1 m2 untuk 1 kg indukan. Namun idealnya, kolam untuk pembibitan yang layak memiliki luas 3 x 3 meter (9 ml dengan kedalaman 1 meter dan padat terbar indukan sebanyak 9 kg.

Kondisi Tanah

Kondisi tanah yang digunakan untuk pembudidayaan belut sebaiknya berupa tanah yang tidak labil agar setelah kolam selesai dibuat, tidak terjadi pergeseran atau perubahan kontur tanah. Pasalnya, pergeseran tanah dapat menyebabkan kolam menjadi retak atau longsor, bahkan rusak parah. Akibatnya, kolam tidak dapat digunakan.

Kondisis Air 

Satu hal yang pasti, budi daya termasuk pembibitan belut, mutlak membutuhkan pasokan air bersih. Karena itu, pastikan lokasi budi daya berada di daerah yang tidak kesulitan air bersih, terutama ketika musim kemarau tiba. Pasokan air bersih penting untuk sirkulasi air dalam kolam, baik untuk pembibitan maupun pembesaran belut. 

Syarat air yang dibutuhkan dalam budi daya belut harus bersih, kaya oksigen, dan tidak terlalu keruh. Selain itu, air yang bagus juga memiliki pH 6-7, yakni tidak asam atau basa. Dengan begitu, pertumbuhan belut dapat Iebih maksimal.

Kolam Jaring

Kolam jaring adalah kolam yang dibuat dengan cara menggali tanah dengan kedalaman tertentu, lalu melapisinya dengan jaring. Ukuran jaring dilebihkan sedikit dari ketinggian kolam agar jaring bisa diikatkan ke bambu yang dipasang di bagian atas kolam sebagai penahan jaring. Kolam jaring terbukti praktis, aman, dan lebih tahan lama dibandingkan dengan kolam tanah yang dibuat menggunakan lapisan terpal atau plastik.

Beberapa keunggulan lain dari kolam jaring sebagai berikut.

  • Kolam jaring dapat digunakan sebagai kolam percobaan atau penelitian pembibitan belut karena luasannya dapat diatur dengan mudah.
  • Adaptasi suhu menjadi lebih cepat karena kolam ini langsung bersentuhan dengan tanah.
  • Daya tahannya yang bisa digunakan hingga tiga tahun.
  • Biaya pembuatannya relatif murah.
  • Suhu lebih stabil karena akan cepat menyatu dengan suhu tanah di lokasi kolam.

Berikut ini tahapan pembuatan kolam jaring untuk pembibitan. 
  • Gali tanah sesuai ukuran yang digunakan, misalnya 3 x 3 meter, dengan kedalaman 1 meter.
  • Tancapkan tiang pancang dari batang bambu, kemudian buat kerangka mengelilingi kolam yang berguna untuk memasang dan menahan jaring agar tetap kokoh selama budi daya dilakukan.
  • Pasang jaring di kolam. Bagian dasar jaring harus tepat menyentuh dasar kolam—tidak menggantung—agar jaring nantinya tidak menahan beban media pemelihar'aan yang dapat menyebabkan jaring jebol atau terlepas dari bambu penahan.
  • Kaitkan jaring pada bambu, yakni dengan cara dipaku di beberapa bagian bambu dan diikat dengan tali kawat agar Lebih kuat.
    Usahakan ketinggian jaring Iebih tinggi 20-30 cm dari ketinggian kolam.

Kolam Pemijahan

Kolam pemijahan adalah kolam yang digunakan khusus untuk memijahkan atau mengawinkan belut. Kolam ini harus dibuat senyaman mungkin untuk kehidupan belutdan dijaga agar beluttidak kaburselama pemeliharaan dilakukan. Usahakan selama pemeliharaan berlangsung,) belut tidak kekurangan pakan alami—seperti cacing dan ikan kecil. Hal ini sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup belut.

Kolam pemijahan umumnya berisi indukan dengan kapasitas 1 kg (46 ekor) belut/m2. Indukan belut berada di kolam pemijahan ini selama 1,5 bulan, terhitung sejak indukan belut berhasil memijah hingga larva berumur 1-2 minggu. Kedalaman kolam pemijahan sekitar 1 meter. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, ukuran kolam pemijahan paling tidak sekitar 3 x 3 x 1 meter.

Kolam Pendederan

Kolam pendederan berfungsi untukmemindahkan larva hasil pemijahan dari kolam pemijahan ke tempat khusus. Pemindahan dilakukan sejak larva berumur dua minggu. Namun, dalam pemeliharaannya, kolam pendederan tersebut disekat dan digunakan untuk menampung benih belut hasil pemijahan yang sama. Tujuannya, agar tingkat kepadatan belut tidak terlalu padat. Dengan demikian, kolam pendederan membutuhkan dua tempat, yakni kolam pendederan I dan kolam pendederan II.

Sekadar informasi, untuk satu kolam pemijahan berukuran 3 x 3 x 1 meter membutuhkan dua kolam pendederan berukuran 2 x 2 x 1 meter dengan kepadatan 20-25 ribu ekor larva belut. Selama proses pemijahan hingga bibit belut slap dijual atau dibesarkan, dibutuhkan waktu sekitar empat bulan.

1.    Untuk kolam berukuran 3 x 3 x 1 meter, sediakan 4 m3tanah, 25 kg kotoran ternak, dan dua batang pohon pepaya yang telah dicacah.,
2.    Masukkan semua bahan tersebut ke dalam kolam, aduk rata dengan cara dicangkul, dan biarkan selama satu bulan sambil diairi layaknya pengairan sawah setinggi 2 cm.
3.    Setelah itu, jika tanah dirasa belum halus, aduk kembali bahan tersebut, alirkan air layaknya perlakuan sebelumnya, lalu biarkan selama satu minggu hingga satu bulan.
4.    Pegang tanahtersebutdengantangan,jika teksturnya telah berubah menjadi lebih halus—seperti tekstur tanah sawah—berarti tanah sudah bisa digunakan.

Jerami Padi

Jerami padi berfungsi untuk menghadirkan plankton dan cacing tanah. Jerami padi yang digunakan sebaiknya merupakan jerami yang sudah lapuk. Cirinya, ketika dipegang dengan tangan akan mudah rapuh atau hancur. Selain itu,dari fisiknya jugs terlihat berwarna cokelat. Hal ini perlu dipahami karena jerami yang belum lapuk jika dipaksakan digunakan sebagai campuran media pemeliharaan belut akan menimbulkan gas fermentasi yang dapat menyebabkan belut mati.

Gedebog Pisang.

Selain dapat menghadirkan pakan alami belut, gedebog pisang juga berfungsi untuk menstabilkan pH air. Selain gedebog pisang, bonggol pisang yang sudah lapuk juga bisa digunakan untuk campuran media pemeliharaan  belut.

Kotoran Ternak (Pupuk Kandang)

Kotoran ternak yang sudah bisa dipakai untuk media pemeliharaan belut adalah kotoran ternak yang berasal dari sapi, kerbau, atau kambing yang sudah agak lama (tidak mengandung gas)—kira-kira yang sudah dibarkan sekitar 2-4 minggu. Kotoran ternak ini berfungsi untuk memperkaya kandungan nutrisi media pemeliharaan dan menjaga iliesuburan tanah.

Membuat Media Pemeliharaan

Untuk kolam berukuran 3 x 3 x 1 meter dibutuhkan bahan campuri yang terdiri atas tanah sebanyak 4 m3, kotoran ternak sapi atau kerbi sebanyak 4 karung (ukuran 25 kg), gedebog pisang lapuk sebany 3 karung, dan jerami lapuk 2 karung. Untuk ukuran kolam yang leb luas, perbandingan antara kotoran ternak, gedebog pisang, dan jerar adalah 3 : 2 : 1 yang dikalikan dengan luasan kolam.

Proses Pematangan Media

Setelah bahan-bahan media disiapkan, langkah selanjutnya adalah mencampurkan semua bahan tersebut. Berikut cara perlakuan dan aplikasinya.
  • Potong kecil-kecil jerami, lalu campurkan dengan pupuk kandang, dan batang pisang yang telah   dicacah.
  • Aduk rata semua bahan tersebut untuk mempercepat dan mempermudah proses fermentasi.
  • Hamparkan campuran bahan tersebut setinggi 10 cm di atas permukaan semen atau di tanah yang dilapisi dengan plastik atau terpal.
  • Semprotkan campuran biokomposer sebanyak 5 liter di atasnya hingga merata.
  • Hamparkan lagi bahan media di atasnya dan ulangi cara tersebut hingga ketinggian lapisan media mencapai 50 cm.
  • Tutup campuran media dengan karung goni, lalu biarkan selama tujuh hari.Setelah itu, buka karung goni lalu balikkan media tiga kali dalam seminggu sambil diangin-anginkan agar gas sisa fermentasi dapat keluar. Selanjutnya, media siap dicampurkan dengan tanah.

Indukan Betina

Bagian bawah perutnya membuncit dan transparan. Bagian dalamnya terlihat jajaran bakal telur berwarna kekuningan. Selain itu, bagian kelaminnya—areal dekat dubur—memerah dan membengkak. Belut dengan ciri seperti ini siap dijadikan indukan dan dipijahkan. Satu kilogram indukan sebanyak 46 ekor. Satu indukan dengan bobot seperti ini berisi telur 150 butir per indukan. Pada pembibitan belut, perbandingan jumlah betina dan pejantan yang dimasukkan ke dalam kolam pembibitan adalah 2 : 1.

Indukan Jantan

Berbeda dengan indukan betina, bagian bawah perut pejantan rata dan bagian dalamnya tidak terdapat jajaran telur berwarna kekuningan. Selain itu, bagian kelaminnya—dekat dubur—tidak memerah dan membengkak. Ukuran panjang dan diameter tubuh antara indukan betina dan jantan yang akan dipijahkan sebaiknya tidak terlalu jauh berbeda (seragam).

Perawatan Selama Pemijahan

a.    Pemberian Pakan
Selama pembibitan, pakan diberikan 5% dari bobot tubuh keseluruhan indukan. Selain ikan kecil yang selalu berada di dalam kolam, indukan dapat diberikan pakan berupa cacing tanah hidup. Selama budi daya berlangsung, pastikan keberadaan ikan kecil di dalam kolam selalu tersedia agar belut tidak kekurangan pakan dan berpotensi memangsa atau melukai sesamanya. Selain itu, jenis pakan alami lain yang bisa diberikan adalah keong.

b.    Pengaturan Air
Selain pemberian pakan, pada kolam pembibitan atau pemijahan juga dilakukan pengaturan air masuk dan keluar. Harus diperhatikan bahwa ketinggian air tidak boleh melebihi tinggi pematang agar sarang belut tidak terendam. Hal ini terutama terjadi pada musim hujan ketika debit air yang masuk meningkat. Ketinggian air pada kolam pennijahan belut berkisar 1-2 cm.

Penyakit dan Penaggulangannya

a.   Protozoa
Protozoa merupakan hewan penyebab penyakit bercak putih atau white spot pada belut. Jenis yang biasa menyerang belut adalah lchtyopthiris multifilis. Protozoa jenis ini memiliki toleransi yang tinggi terhadap suhu, sehingga penyakit ini dapat berkembang di daerah beriklim dingin hingga perairan tropis. Penanggulangan penyakit ini dapat dilakukan dengan memberikan senyawa kimia, seperti Malachite Green.

Pemberian Malachite Green dilakukan dengan dosis 1 gram/10 luas kolam dan diulang setiap dua hari sekali hingga bintik pi menghilang sepenuhnya. Sementara itu, pencegahannya dilaku dengan cara mengkarantina indukan sebelum dimasukkan ke da kolam pemijahan, terutama indukan atau bibit yang didapatkan tempat lain.

b.    Bakteri
Bakteri yang menyerang belut berasal dari jenis Aeromonas Pseudomonas. Belut yang terserang bakteri ini jika sudah menyer, akan sulit diobati. Gejala fisik serangan bakteri berupa bercak mera' permukaan tubuh belut yang disertai sekresi lendir secara berlebi dan terjadinya perdarahan.

Penyakit ini muncul jika penanganan dalam pemeliharaan belut ti dilakukan secara tepat. Contohnya, ketika kepadatan dalam ko tinggi, tetapi pH air rendah. Selain itu, penggunaan eceng gondok y terlalu banyak di dalam kolam juga sebaiknya dihindari karena bal gemar berkembang biak di sela-sela akar eceng gondok.

Pencegahan penyakit ini dilakukan dengan selalu mengontrol pl¬dan menghindari kepadatan belut yang berlebih. Jika perlu, tabur garam ke dalam kolam dengan dosis satu sendok makan garam ur luasan kolam 2 m2.

c.    Jamur
Jamur biasanya menyerang jika ada bagian tubuh belut yang terl Jamur juga suka menyerang telur belut, sehingga mengakiba embrio mati dan telur tidak dapat menetas. Jamur yang menye belut dan telurnya umumnya berasal dari jenis Saprolegnia dan Ac Jamur ini dapat hidup pada suhu 0-35° C. Pertumbuhan opt terjadi pada suhu 15--30° C. Serangan jamur berkaitan dengan ku, air yang buruk akibat kurangnya sirkulasi air dan oksigen, serta I amoniak dan bahan organik yang terlalu tinggi.

Serangan jamur ini dapat diatasi dengan pemberian kalium permanganat (PK), Malachite Green, dan garam dapur. Pemberian PK dilakukan dengan dosis 1 gram/100 liter air. Pengobatan dilakukan empat kali berturut¬turut dalam waktu empat hari dengan pemberian PK pada pagi hari. Malachite Green dapat diberikan dengan dosis 1 g/450 ml air.

Artikel lain yang dapat anda baca (klik untuk membacanya) :
Cara Ternak Ikan Lele
Cara Budidaya Ikan Cupang

Kalau artikel ini bermanfaat bagi Anda, tolong share keteman anda melalui google plus [g+] dengan cara mengklik tombolnya di bagian bawah halaman ini. Trima kasih atas partisipasinya.

(Sumber Buku : Sukses Membibitkan Belut di Lahan Sempit, Penulis : Iwan Hermawan & Wawan setiawan, SP)

Tonie - 12:26 AM